Meet The New Chef!

Standard

Ada dua orang chef di Britania Raya ini yang saya ketahui, yang pertama adalah si Galak Gordon Ramsey, dan yang kedua adalah si Ganteng Jamie Oliver. Tapi, semenjak minggu lalu, muncullah seorang chef jadi-jadian bernama si Bybyq.

Iyah!

Demi menghemat uang jajan saya, saya pun memutuskan untuk memasak sendiri apa yang saya makan di sini. Selain saya bisa mengontrol berapa banyak uang yang saya keluarkan untuk makanan, saya juga bisa mengontrol asupan makanan (sehubungan dengan diet yang selalu gagal kemarin). Tapi masalahnya adalah, saya sama sekali tidak bisa memasak.

Berbeda dengan Bedjo yang begitu akrab dengan dapur, saya bisa dibilang tidak pernah menyentuh dapur (kecuali pas kemarin tinggal di apartemen). Masakan saya, bisa dibilang bukan masakan, melainkan makanan untuk bertahan hidup. Prinsip saya, baik daging maupun sayur yang direbus dengan menggunakan garam dan lada, pasti bisa dimakan. Lagipula, saya ingin mengurangi minyak karena selama di Indonesia akhir-akhir ini saya selalu makan gorengan 😦

Kata salah satu anak Indonesia yang saya temui kemarin, masakan British dikenal sebagai salah satu masakan terburuk di dunia. Saya tidak pernah makan Fish and Chips (fish and chips, sodara-sodara!!) se tidak enak yang saya beli kemarin. Rasanya tawar, padahal ikannya kan digoreng?! Bukankah apapun yang digoreng selalu enak? Ternyata saya salah untuk yang satu ini.

Selama beberapa hari saya bertahan dengan segala jenis sup dan salad. Lumayan juga saya bisa masuk ke dalam celana dengan lebih mudah dalam hitungan hari. Tapi entah kenapa beberapa hari saya masak kok makanan yang saya masak jadi ikutan tawar?

Jangan-jangan saya beneran sudah jadi orang Inggris?

Makanan terenak yang saya buat adalah salad buah ala Tante Al. Ingat tante Al? Itu lho, tante yang ada di Kotamobagu, yang selalu kasih saya makanan enak-enak… Dia juga memberikan saya salah satu resepnya yaitu salad buah. Sangat mudah dibuat, sehat, dan tentunya enak. Sayangnya saya tidak bisa menemukan banyak jenis buah di sini. Dimana-mana hanya ada apel -_-;

Bukan cuma jenis buah yang sedikit, tapi juga jenis sayur. Kalau di Indonesia kita bisa menemukan kangkung, kailan, caisim, horenzo, bayam, bahkan sampe yang eksotik seperti genjer. Di sini cuma ada bayem, dan beberapa jenis kol dan selada, dan tomat, dan wortel. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan asupan serat seperti di Indonesia. Mungkin dari sereal?

Dan, sereal di sini nggak enak! Hari pertama sebelum saya membeli peralatan memasak, saya membeli satu kotak sereal dan susu. Serealnya… nggak enak (udah bilang kan tadi?). Saya mengira setidak enak- tidak enaknya sereal, kalau sudah dicampur susu pasti enak juga… Apa sih yang tidak enak kalau dicampur susu? Ternyata ada! Yaitu sereal Inggris -_-”

Mungkin Mama, Papa dan Popo saya akan bilang, “nah kan gue bilang juga ape… bawa dong abon dari Indonesia!”

Saya tidak menyesali sedikitpun tidak membawa abon dan sambel dari Indonesia. Bukan saya mau nggaya. Bukan juga dalam rangka mengurangi berat bagasi. Tapi pengalaman makan makanan yang tidak enak inilah yang spesial waktu kita pergi ke suatu tempat yang asing. Apa gunanya jauh-jauh ke sini makan abon atau mi instan, sedangkan kita bisa mencoba banyak hal yang… tidak enak? Apa gunanya pergi jauh untuk berlatih mandiri  kalau untuk membuat makanan survival aja tidak bisa?

Sampai sekarang, saya mungkin masih belum jadi Chef seperti Gordon atau Jamie. Dan saya mungkin tidak akan pernah bisa jadi mereka. Tapi… hey! Setidaknya pulang dari sini, saya sudah bisa masak sesuatu yang lebih enak daripada British Food?

Advertisements

2 responses

    • Halo John Murdock… Makasih udah mampir ke sini. Mestinya di sini ada yang jual bumbu2 instan gitu, tapi saya belom nemu aja :p Ntar kalo dah nemu saya kasih tau ya..
      Nice to meet you

      Like