Monthly Archives: October 2014

Akankah Blogging Jadi Trend (Lagi)?

Standard

Pertanyaan saya itu muncul, tidak lain adalah karena mulai disebut-sebutnya blog milik putra bungsu presiden Republik Indonesia, Kaesang Pangarep di banyak media massa. Blog yang diberi nama Mister Kacang, yang diunggah di platform blogspot itu rupanya telah menarik banyak perhatian pengguna internet di Indonesia, bukan hanya karena blog itu milik putra orang nomer satu di Indonesia, tapi juga karena kontennya yang lucu.

Kaesang memang sudah beberapa lama terkenal dengan celoteh kocaknya di media Twitter sejak lama, tapi setelah akun twitternya ditutup untuk publik (hanya bisa diakses oleh user tertentu saja), blognya yang diberi judul Diary Anak Kampung itu pun menjadi target netizen selanjutnya. Jurnal digital yang sudah ada sejak 2011 (lebih muda dari superbyq) itu pun jadi populer mengikuti pergantian statusnya yang semula anak gubernur, menjadi anak presiden.

Tidak ada yang terlalu politis di tulisan-tulisan Kaesang. Kisahnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dulu kita baca di Kambing Jantan milik Raditya Dika, yang sekarang tidak lagi terkenal sebagai blogger kocak, namun sebagai penulis dan stand up comedian. Cerita yang ditulis tidak jauh-jauh dari kehidupan anak muda jaman sekarang, lengkap dengan curhat-curhat yang dibumbui dengan self-deprecation joke, seperti mengatai dirinya sendiri berwajah ndeso.

Nah…

Kembali ke pertanyaan saya tadi, apakah popularitas Mister Kacang akan menyaingi Kambing Jantan? Tentu saja saya penasaran…

Kambing Jantan– terlepas dari apakah kita suka dengan humor ala Raditya Dika,telah menjadi tonggak sejarah per-bloggingan Indonesia. Atau setidaknya itulah yang saya rasakan. Blogger tidak lagi hanya sebagai platform curhat, tapi juga batu loncatan menjadi penulis betulan. Setelah Kambing Jantan, muncul pula blog-blog lain yang kemudian dibukukan seperti Naked Traveller, atau Sepoci Kopi. Bahkan Dewi Lestari, penulis buku kawakan yang sudah menerbitkan novel-novel berkualitas tidak ketinggalan kereta dengan memulai mempublish bukunya Perahu Kertas, bab demi bab di blog.

Tentu saja, berbeda dengan Kambing Jantan, Mister Kacang tidak diupdate secara reguler. Mungkin ada hubungannya dengan upaya untuk mengamankan keluarga presiden maka Kaesang tidak bisa seterbuka Dika dalam membeberkan detail kehidupan keluarganya. Tapi, entah kenapa Mister Kacang mengingatkan saya pada Kambing Jantan di masa jayanya dulu.

Laki-laki yang mengaku (atau merasa) tidak memiliki kelebihan secara fisik, curhat melalui tulisan di media digital, tidaklah lagi dianggap sebagai jomblo ngenes atau bahasa internasionalnya: forever alone. Sebagai celebrity blogger, mereka sekarang dimasukkan dalam kategori eligible bachelor dengan self deprecating humour yang menawan. Blogger tidak lagi dilabeli sebagai pecundang dunia nyata yang mencari fame di dunia online, tapi sebagai pribadi yang terbuka dan menarik, dan juga melek informasi dan teknologi. Geek becomes the new sexy… apalagi kalo pake ngegym kaya Kaesang.

Moral of the story: Kaesang, jangan putus asa. Ngebloglah lebih sering, seize the momentum. Inget yang jelek-jelek bisa dapet Sherina Munaf? You’re on the right track, Dude

Advertisements

Frozen Eggs, Anyone?

Standard

Maaf… Saya tidak sedang menawarkan makanan. Yang saya maksud dengan frozen eggs adalah pembekuan sel telur untuk perempuan. 

Facebook dan Apple Company, sekarang menawarkan pembekuan sel telur kepada pegawai perempuan mereka. Tawaran ini termasuk dalam company benefit, jadi dua perusahaan raksasa ini akan membantu biaya pembekuan sel telur, apabila pegawai perempuan mereka ingin melakukannya.

Seperti biasa, sebuah langkah besar semacam ini akan menimbulkan kontroversi sana sini, terutama bagi mereka yang masih berpikiran konvensional. Beberapa beranggapan bahwa tawaran pembekuan sel telur ini adalah salah satu bentuk perbudakan yang dilakukan oleh dua perusahaan ini — dengan membuat pekerja perempuan memilih bekerja daripada berkeluarga.

Saya pikir tawaran untuk membekukan atau mengawetkan sel telur untuk pekerja perempuan adalah tawaran yang sangat… sangat istimewa. Bayangkan apabila perempuan tidak dikejar-kejar oleh jam biologis. Bayangkan kalau laki-laki masih bisa menjadi ayah pada umur 60, perempuan harus mulai memikirkan itu sejak mereka berusia 25 tahun. Bayangkan berapa banyak perempuan berbakat yang kemudian mengorbankan karir mereka karena takut tidak keburu beranak.

Memiliki pilihan adalah privilege.

Sekarang perempuan-perempuan berbakat yang bekerja untuk dua perusahaan raksasa ini dapat memilih untuk melanjutkan karir dengan tenang tanpa harus diburu kebutuhan berumah tangga. Mereka dapat menunda punya anak dengan keyakinan bahwa mereka punya sel telur yang masih baik, tersimpan beku, siap untuk digunakan saat mereka sudah siap baik secara mental maupun finansial nanti. Mereka dapat meniti karir, bersaing dengan kolega pria mereka dan menggunakan kemampuan mereka secara maksimal tanpa harus memecah fokus.

Bukan berarti semua pekerja perempuan harus melakukan itu lho…

Perusahaan memberikan pilihan. Kalau mereka mau membekukan sel telur, perusahaan akan membayar untuk itu. Kalau mereka memilih untuk punya anak, perusahaan akan memberikan maternity leave dan child benefit. Kalau mereka memilih untuk tidak punya anak sama sekali, maka mereka punya uang lebih banyak buat bersenang-senang di masa depan. Bayangkan hidup dengan berbagai pilihan seperti itu. Bayangkan sebagai perempuan, tidak lagi harus memilih antara berkarir atau berkeluarga, atau membatasi karir karena adanya momongan.

Sayangnya memang kita tidak pernah bisa membuat semua orang puas dalam waktu bersamaan. Ada saja yang menentang terobosan-terobosan menggembirakan semacam ini.

Saya? Tentu saja saya ada di pihak yang mendukung.

Saya memang bukan penggemar berat kedua perusahaan ini, meskipun saya menggunakan produk-produk mereka. Tapi, saya yakin ini adalah langkah awal yang baik yang harus ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain, terutama perusahaan yang menyerap banyak pekerja perempuan. Mungkin, COSMOPOLITAN harus mengikuti terlebih dahulu. Dengan gembar-gembor female empowerment, seharusnya mereka ada di garis depan.

Membekukan sel telur memang bukan pilihan semua orang. Tapi membekukan sel telur adalah pilihan. Saya ingat seorang perempuan mengatakan saat diwawancara di televisi, menjelaskan mengapa dia setuju dengan perusahaan yang menawarkan pembekuan sel telur dalam company benefit.

Dia mengatakan bahwa membekukan sel telur bukan berarti mereka harus menggunakan sel telur itu nanti. Bayangkan membekukan sel telur itu seperti mengambil premi asuransi. Ada saat dibutuhkan, dan sebisa mungkin tidak digunakan. Esensinya adalah memberikan kesempatan buat perempuan agar bisa memiliki anak saat mereka siap, bukan karena mereka kepepet atau terpaksa.

Tentu saja pembawa acaranya, yang kelihatannya memang tidak terlalu pintar, tidak bisa memahami logika semacam itu, Baginya perempuan bisa saja tetap berkarir dan berkeluarga kalau perusahaan memberikan child benefit atau membangun child care centre di tempat kerja. That’s not the point. Tapi memang tidak semua orang bisa berpikir sampai ke sana… Saya maklum.

Apakah saya mau membekukan sel telur saya?

Nggak.

Satu, membekukan sel telur itu mahal, jadi ga mungkin saya melakukan itu dengan biaya sendiri. Dua, saya memang ga mau punya anak.

 

Istanbul: Maiden’s Tower dan Bosphorus Cruise

Standard

Dua hari terakhir di Istanbul, saya rasa barulah kami betul-betul melihat indahnya tempat ini. Baru ngeh kenapa kota ini diperebutkan dua kekaisaran besar, untuk dijadikan sebagai pusat kekuasaan mereka. Sungguh tidak heran deh…

Dengan lebih dari 90% penduduknya beragama Islam, tidak heran kita bisa melihat masjid di sepanjang jalan. Erkan, tour guide kami, bahkan mengingatkan untuk tidak menggunakan masjid sebagai ancer-ancer, karena di setiap ujung jalan kami pasti akan bertemu masjid. Tentu saja kami sudah siap-siap untuk mendengar suara adzan lima kali sehari, mengingat begitu banyaknya masjid di Istanbul, tapi ternyata tidak. Tidak ada panggilan, aktivitas di pasar, restoran, tempat wisata tidak ada yang berhenti menjelang waktu beribadah.

Salah satu Masjid di sepanjang jalan dari Anatolia menuju Istanbul

Salah satu Masjid di sepanjang jalan dari Anatolia menuju Istanbul

Saat ditanya, Erkan hanya tertawa. “Ya benar,” katanya. “Memang 90% atau bahkan 95% penduduk Turki ini beragama Islam, tapi di kota besar macam Istanbul, cuma 3% bahkan kurang yang pergi ke masjid atau solat lima waktu.”

Erkan melanjutkan, “Orang Turki, karena sejarahnya merupakan masyarakat yang toleran. Meskipun saya tahu tetangga saya muslim, tapi kalau dia ingin minum alkohol, saya tidak akan melarang. Mau puasa silakan, mau tidak puasa suka-suka. Mau pergi ke masjid silakan, mau tidak pergi tidak ada yang menghakimi. Itu sudah normal di Turki.”

“Hanya saja, satu hal yang kami tidak lakukan…” Erkan menunggu, membangun suspense. “Makan babi!” katanya.

“Aneh memang orang Turki ini. Menurut hukum agama kami, tidak sholat tidak puasa dan minum alkohol dosanya lebih besar daripada makan babi. Tapi kami lebih sensitif soal makan babi daripada dosa yang lain. Aneh memang kami ini…” katanya mengakhiri pembahasan, disambut tawa kami semua.

Begitu memasuki kota Istanbul, selat Bhosporus biru membentang di sebelah kiri kami. Terlihatlah juga sebuah pulau kecil dengan tower di atasnya. Maiden’s Tower. Bangunan bersejarah ini milik pemerintah, tetapi upkeepnya diberikan kepada swasta dan interiornya digunakan sebagai restoran. Saya rasa ini ide yang sangat bagus untuk mempertahankan feel kota tua yang dimiliki Istanbul.

Maidens Tower, menara kecil di Selat Bhosporus

Maidens Tower, menara kecil di Selat Bhosporus

Maiden’s Tower memiliki banyak cerita. Sama seperti Indonesia, Turki memiliki banyak mitos dan legenda lokal untuk menjelaskan suatu daerah. Maiden’s Tower sendiri memiliki setidaknya lima urban legend. Tetapi salah satu yang paling terkenal adalah kisah mengenai putri raja dan ular.

Alkisah, suatu malam dalam tidurnya, Sultan mendapat mimpi. Dalam mimpi itu seorang ahli nujum berkata padanya bahwa putri kesayangannya akan meninggal digigit ular. Sang Sultan sangat mempercayai mimpi tersebut, dan ingin menyelamatkan putrinya dari kematian. Dipikirkannya seribu cara, sampai diputuskannya bahwa Sang Putri akan ditempatkannya di sebuah menara di pulau kecil, jauh dari ular.

Setiap hari, pelayan akan datang membawakan pakaian, dan makanan untuk Sang Putri. Dayang-dayang memenuhi apapun kebutuhan Sang Putri, dan apapun yang diinginkannya. Suatu hari, datanglah kiriman makanan berupa buah-buahan segar dari mainland. Makanan kesukaan Sang Putri. Tak disangka, seekor ular berhasil menyelinap di keranjang buah itu dan menggigit tangan Sang Putri pada saat dia hendak mengambil buah dari keranjang. Sang Putri pun meninggal digigit ular.

Not a cheerful story…

Tapi Maiden’s Tower ini memang bagus… Butuh ekstra perjuangan buat naik ke atas tower, yang dari jauh tidak kelihatan terlalu tinggi itu. Tapi sampai di sana kami bisa melihat indahnya selat Bosphorus.

Btw, Selat Bosphorus iki opo tho? 

Selat Bosphorus dari puncak Maidens Tower

Selat Bosphorus dari puncak Maidens Tower

Turki ini adalah negara yang letaknya tepat di perbatasan antara Asia dan Eropa. Pembatasnya ya Selat Bosphorus ini. Di sebelah Timur Selat Bosphorus adalah Turki di Asia, dan di sebelah Barat adalah Turki di Eropa. Inilah yang menyebabkan Turki begitu kaya dengan budaya, meskipun tidak jelas apakah ini budaya Asia, atau Eropa.

Setelah makan siang di restoran di tower, kami naik ke kapal. Bosphorus Cruise adalah salah satu kegiatan wisata yang sangat populer di Turki. Jadi kami akan mengarungi Selat Bosphorus sambil melihat Turki dari laut. Percaya atau tidak, dengan sedikit pengamatan kita bisa melihat bedanya bangunan dengan pengaruh Eropa dan bangunan dengan pengaruh Asia.

IMG_6446

Pemandangan dari dalam kapal, Kota Istanbul yang padat dan sibuk

Dari Selat Bosphorus, kami juga bisa melihat tempat yang akan kami kunjungi keesokan harinya. Topkapi Palace.

 

Istanbul: Hippodrome, Blue Mosque, dan Hagia Sophia

Standard

Jauh sebelum Kota Istanbul dikenal dengan nama demikian, kota ini tidak lebih dari sekedar kota nelayan kecil dalam wilayah kekuasan kekaisaran Yunani dengan lokasi yang sangat strategis bernama Byzantium atau Byzantion. Saat berjayanya kekaisaran Romawi, Byzantium — karena lokasinya yang strategis itu, dijadikan sebagai pusat kekuasaan Romawi dan diberi nama Konstantinopel (Constantinople), atau Konstantinopolis (Constantinopolis), dari nama Kaisar Konstantin.

Berkembangnya kekaisaran Romawi ini sejalan dengan berkembangnya ajaran agama nasrani. Penduduk Byzantium yang sebelumnya adalah penganut agama Pagan Yunani, mulai beralih memeluk agama Nasrani mengikuti pemimpin mereka. Silih berganti pemimpin Konstantinopel ingin menjadikan kota ini sebagai kota suci, menggantikan posisi Roma sebagai pusat agama Kristen. Namun keruntuhan kekaisaran Romawi, diikuti dengan berkembangnya kekaisaran Ottoman, Konstatinopel pun jatuh, dan kemudian diberi nama Istanbul, dan Islam pun mulai dijadikan sebagai agama utama di kota tersebut.

Sekilas begitulah garis besar sejarah kota Istanbul. Apabila tertarik untuk tahu lebih banyak bisa google, atau mungkin mau menonton BBC Four Documentaries, Byzantium: A Tale of Three Cities. Ada tiga episode, dan saya rasa penjelasan maupun rekonstruksi kejadiannya sangat menarik untuk diikuti.

Nah… Perkembangan Istanbul dari jaman Byzantium sampai Ottoman empire itulah yang menyebabkan Istanbul sungguh kaya dengan budaya. Perkembangan agama di kota ini membuat Istanbul tidak hanya dianggap sebagai kota suci umat Islam, namun juga umat Kristen, Katolik dan juga penganut Pagan Yunani.

Hagia Sophia, misalnya. Hagia Sophia atau Aya Sophia artinya adalah Holy Wisdom atau kebijaksanaan suci.

Tidak jelas apakah saya harus menyebut Hagia Sophia sebagai gereja, kuil pagan atau masjid. Di dalam gedung yang luar biasa megah ini tidak hanya bisa kita lihat lukisan ataupun mosaik bergambar Bunda Maria dan Yesus, namun juga benda-benda pemujaan agama pagan dan juga aksara Arab yang menyimbolkan Islam.

IMG_6029

Pemandangan dari dalam Hagia Sophia yang berhasil saya foto sebelum batere ponsel saya benar-benar mati

Bangunan ini mencerminkan sikap orang Turki pada umumnya. Mereka menyambut baik semua agama, dan tidak fanatik terhadap satu agama tertentu. Orang Turki memiliki penghargaan tinggi terhadap tradisi dan juga kekayaan budaya mereka, dan mereka sangat mengerti bahwa menjaga kekayaan budaya ini jauh lebih penting daripada mempertahankan fanatisme sempit.

Hasilnya? Turki adalah negara Islam yang tidak terseret-seret perang di Timur Tengah. Erkan menjelaskan pada kami bahwa karena sikap bangsa Turki yang terbuka dan bhinneka, mereka dapat hidup tenang sebagai bangsa merdeka tanpa harus terjebak dalam perang seperti negara tetangga mereka, Syria.

Selain Hagia Sophia, di area yang sama kita juga bisa melihat Hippodrome. Hippodrome ini didirikan sebagai monumen kebesaran Konstantinopel sebagai pusat kekaisaran. Hippodrome adalah alun-alun, di mana di sana terpajang berbagai obelisks, dan juga patung yang melambangkan kebesaran kekaisaran Romawi pada saat itu.

Pada saat kedatangan pasukan Ottoman, Hippodrome tidak ikut jatuh bersama jatuhnya Konstantinopel. Sebaliknya Hippodrome diabadikan dan diganti nama menjadi Alun-alun Sultan Ahmed, atau Sultan Ahmed Square, atau dalam Bahasa Turki Sultanahmed Meydani. Dan, di area yang sama dibangun pula Masjid Sultan Ahmed, yang dikenal pula sebagai The Blue Mosque.

Kenapa masjid ini diberi nama masjid biru? Kalau kalian masuk ke dalamnya, kalian akan mengerti kenapa.

gambar diambil dari Wikipedia, karena ponsel saya sudah tidak bernyawa pada saat kami sampai di sini…

Interior masjid ini dihiasi dengan keramik iznik yang terkenal dengan motif bunga tulip berwarna biru. Jadi, saat kita masuk ke dalam masjid ini, kita akan dikelilingi warna biru yang menenangkan.

Inilah iznik pottery Turki yang terkenal itu (gambar juga saya ambil dari Wikipedia). Kerajinan tangan ini hanya dikuasai beberapa orang saja, salah satunya master potter yang akan kami temui nanti…

Bagi saya, tiga bangunan ini melambangkan perjalanan Kota Istanbul yang sesungguhnya. Tidak heran bahwa tiga objek wisata ini begitu populer, tidak hanya bagi turis tapi juga bagi para sejarawan. Tapi Istanbul tidak hanya tentang mereka, masih banyak cerita tentang Istanbul, seperti Istana Topkapi, Maiden Tower, dan indahnya Selat Bosphorus.

Book Review: The Universe Versus Alex Wood

Standard

Judul: The Universe Versus Alex Wood
Pengarang: Gavin Extence
Bahasa: Inggris
Format: Hardcover

Review:
Alex Wood adalah seorang remaja laki-laki yang tinggal bersama dengan ibunya yang berprofesi sebagai paranormal sekaligus pemilik toko witchcraft. Sifatnya yang lurus dan naif membuatnya menjadi bulan-bulanan siswa lain di sekolahnya. Namun ini pula yang membuatnya bertemu dengan seorang veteran dari Amerika, Mr. Peterson, dan menjalin persahabatan yang unik dengan lelaki tua yang pemarah itu.

Ini adalah tipe-tipe cerita yang saya suka. Ceritanya sangat tidak biasa, dan humornya cenderung gelap dan ironi. Saya rasa Gavin Extence berusaha sebisa mungkin untuk membuat jalan ceritanya lebih ringan untuk dibaca dengan menyelipkan humor-humor khas British untuk membuat topik yang lumayan berat untuk dipikirkan ini menjadi tidak terlalu menghantui. Selain itu, menjadikan seorang remaja sebagai tokoh sentral hampir tanpa memasukkan tema-tema pubertas bukanlah hal yang mudah, tetapi penulisnya mampu melakukan semua itu tanpa membuatnya terasa aneh.

Saya senang dengan bagaimana penulis mengkarakterisasi, tidak hanya tokoh utama Alex Wood dan Mr. Peterson, namun juga karakter-karakter pendukung yang lain. Mungkin karena buku ini ditulis dengan gaya menulis jurnal, pendeskripsian tokoh-tokoh selain Alex digambarkan melalu cara pandang Alex yang unik.

Pada akhirnya buku ini membuat saya merasa agak emosional. Tanpa saya sadari tiap karakter dalam buku ini sudah membangun ikatan emosional tanpa harus berusaha berlebihan meyakinkan pembacanya.

Saya menilai buku ini 8/10.

Malala, Again :)

Standard

Senang rasanya saya mendengar bahwa Malala Yousafzai memenangkan Nobel Perdamaian tahun 2014 ini. Meksipun gadis ini baru berumur 17 tahun, tapi saya sama sekali tidak ragu bahwa dia layak mendapatkan penghargaan bergengsi ini. Saya ingin mengucapkan selamat pada Malala atas penghargaan yang diterimanya — meskipun mungkin dia tidak pernah akan sampai ke blog ini untuk membacanya, dan juga berharap penghargaan ini akan membantunya untuk meneruskan perjuangannya memberikan pendidikan kepada semua anak, terutama di negara-negara dengan teroris — melalui Malala Foundation.

Ya.

Saya memang tidak bosan-bosannya bicara tentang gadis pemberani satu ini. Kebanyakan orang hanya tahu mengenai kisahnya ketika diincar oleh Taliban, dan ditembak di kepala, dan selamat setelah dibawa untuk dioperasi di Inggris dua tahun yang lalu. Setelah itu, tidak banyak yang mengikuti sepak terjang Malala, sampai diluncurkan buku I AM MALALA yang kemudian mengingatkan kembali pada kita bahwa hidup di negara yang relatif aman, dan lingkungan yang relatif enak membuat kita tidak sadar beruntungnya kita memperoleh pendidikan yang tinggi.

Video ini merupakan rekaman wawancara Malala di salah satu acara televisi di Amerika Serikat. Tidak hanya berhasil membuat penonton bersorak mendukungnya, namun juga membuat pembawa acaranya, Jon Steward terpaku dan tidak bisa bicara apa-apa.

Kalimatnya yang paling powerful menurut saya adalah saat dia menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

“… So I think education is the best way. People would be thinking, just going to school, learning about Chemistry and Physics and Maths, and that’s it. Going to school is not only learning about different subjects, it teaches you communication, it teaches you how to live a life, it teaches you about history, it teaches you about how science is working. And other than that, you learn about equality. Because, students are provided the same benches, they sit equally.It was an equality, it teaches students how to live with others, how they get to accept each others languages, how to accept each others tradition, and each others religion. It also teaches us justice. It also teaches us respect. It teaches us how to live together…”

“… Jadi, saya pikir pendidikan adalah jalan terbaik. Orang-orang berpikir, pergi ke sekolah belajar Kimia, Fisika, Matematika. Sudah. Pergi ke sekolah tidak hanya untuk belajar berbagai mata pelajaran, [sekolah] mengajarimu bagaiamana untuk berkomunikasi, mengenaik bagaimana menjalani kehidupan, [sekolah] mengajarimu tentang sejarah, tentang bagaimana ilmu pengetahuan digunakan. Selain itu, kamu juga belajar mengenai persamaan. Karena siswa diberikan kursi yang sama, mereka duduk sama rendah. Itu mengenai persamaan. [Sekolah] juga mengajari siswa bagaimana hidup dengan orang lain, bagaimana mereka harus menerima bahasa [siswa] yang lain, bagaimana menerima tradisi yang lain, bagaimana menerima agama yang lain. Juga mengajari kita tentang keadilan. Juga mengajari kita mengenai rasa hormat. [Sekolah] mengajari kita cara hidup berdampingan…”

Saya setuju dengan yang dikatakan Malala. Saya percaya bahwa sekolah umum yang waras akan mengajarkan pentingnya toleransi. Bahwa membully siswa lain yang minoritas itu salah, atau mengganggu siswa lain yang lebih lemah itu tidak baik. Itu kenapa saya percaya bahwa orang-orang yang suka ribut-ribut merusak rumah ibadah orang lain adalah orang-orang yang tidak berpendidikan. Saya tidak bilang mereka bodo, tapi menurut saya mereka tidak mendapatkan pendidikan, seperti yang Malala sampaikan di atas.

Sekali lagi, saya ucapkan selamat kepada Malala atas penghargaan Nobel Perdamaian yang diterimanya, meskipun harus berbagi dengan Kailash Satyarthi. Selamat berjuang 🙂

Istanbul, Satu Kota Seribu Cerita

Standard

Mungkin agak terlambat kalau saya menceritakan tentang liburan saya saat Lebaran kemarin, tapi tetap saja saya ingin berbagi, siapa tahu saja di antara kalian ada yang ingin jalan-jalan ke Turki di waktu yang akan datang. Sebelumnya, saya ingin memberi dua tips mengenai kapan waktu yang tepat untuk berlibur ke Turki.

1. Mungkin memang waktu yang paling pas buat kita berlibur, terutama yang di Indonesia adalah pada saat lebaran. Tapi pergi ke Turki pada saat lebaran sungguh bukan waktu yang tepat. Bayangkan macetnya arus mudik? Ya, demikian juga keadaan lalu lintas di Turki. Kenapa? Karena mayoritas penduduk Turki beragama Islam, dan mereka juga merayakan Ramadan, beberapa tempat wisata kemungkinan ditutup atau tutup setengah hari karena perayaan ini juga, jadi sayang sekali kalau harus menghabiskan waktu di jalan karena terjebak macet seperti yang saya alami kemarin di Turki.

2. Karena lokasinya, beberapa wilayah Turki memiliki iklim mediterania. Turki mengalami musim dingin-penghujan yang bisa membuat orang menggigil kedinginan, juga musim panas yang kering dan gerah. Pergi ke Turki pada bulan-bulan musim panas seperti yang saya lakukan kemarin sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi kita yang tinggal di negara tropis. Tentu saja berbeda bagi wisatawan Eropa yang senangnya bukan main kalau melihat cahaya matahari, kita akan sibuk mencari perlindungan pohon atau payung dan berlapis-lapis krim untuk melindungi kita dari sengatan matahari. Takut gosong bok!! Jadi, sebaiknya pergi ke Turki pada bulan-bulan Maret di mana kalian bisa menikmati tulip bermekaran di istana Topkapi, atau akhir September di saat cuaca tidak terlalu panas.

Istanbul ini adalah kota terbesar di Turki, tapi jangan salah, Istanbul bukanlah ibukota Turki. Ibukota Turki berada di Ankara, letaknya di daerah Anatolia. Mengapa kota terbesar di Turki tidak sekalian saja dijadikan ibukota, seperti Jakarta, misalnya?

Nah, bapak pendiri Republik Turki, sekaligus presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk memiliki visi yang besar terhadap negara ini. Dia tahu benar bahwa sebagai ibukota, sebuah wilayah harus memiliki fasilitas infrastruktur yang baik. Istanbul pada saat itu sudah terlalu penuh untuk dibangun ulang, maka dipilihlah Ankara sebagai ibu kota. Dimana letak Ankara ini tidak hanya strategis, tetapi masih memberi ruang untuk membangun gedung-gedung bisnis dan administrasi negara tanpa merombak gedung-gedung tua bersejarah di Istanbul.

Tahu dari mana saya semua itu?

Tour guide kami selama di Turki, Erkan, mungkin adalah tour guide terbaik yang pernah saya temui. Tidak hanya dengan sabar menjelaskan mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi, namun juga sangat informatif mengenai hal-hal di luar itu. Erkan tahu banyak hal dari sejarah agama, politik maupun sejarah arkeologi, yang membuat seminggu bersama tur ini membuat saya merasa sudah menjadi ahlinya Turki.

Karena sudah menjadi tour guide selama lebih dari 10 tahun, dan sudah memimpin tur untuk grup orang Indonesia selama itu juga, kemampuan bahasa Indonesia Erkan sangat baik. Ini sangat membantu bagi anggota keluarga kami yang tidak bisa berbahasa Inggris seperti orang tua saya. Dan, mengenal betul sifat orang Indonesia, Erkan memutuskan untuk membagi tur Istanbul menjadi dua hari. Hari pertama sesaat setelah kami mendarat, dan hari terakhir sebelum kami pulang.

Ide yang bagus. Karena ternyata kami harus terjebak 9 jam kemacetan saat hendak keluar dari Istanbul, menuju ke Canakkale. Ya, benar… arus mudik lebaran. Istanbul adalah kota termacet di Turki, kami tahu itu di hari pertama liburan kami.

Harus saya akui hari pertama saya di Turki, di Istanbul benar-benar melelahkan.

Meskipun tur dimulai di Istanbul, tapi perjalanan saya dimulai duapuluh empat jam sebelumnya di Norwich. Karena saya tidak lagi berdomisili di Indonesia, saya bergabung dengan anggota tur yang lain di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul. Hanya saja, karena perbedaan waktu penerbangan, saya harus menunggu di dalam bandara selama kurang lebih tujuh jam. Tanpa internet.

Mengantuk dan kelaparan, saya tidak bisa melakukan apa-apa selain membeli air minum dan cemilan dari vending machine. Karena tidak ada internet sama sekali, saya tidak bisa mengontak siapa pun.  Lagipula batere saya sudah mau mati karena menunggu sekian lama. Alhasil saya harus menunggu di tempat di mana anggota keluarga saya akan mengambil bagasi nanti. Ah…

Ditambah dengan teriknya matahari musim panas di Turki, saya benar-benar tidak bisa seratus persen menikmati hari pertama di Istanbul. Padahal saya penasaran betul dengan tiga tempat ini, Hippodrome, Blue Mosque, dan Hagia Sopia. Tiga tempat bersejarah ini punya beribu cerita tentang Istanbul.

Mengeluh Di PATH Bisa Dipenjara?

Standard

PATH adalah mobile apps yang saat ini sedang booming di kalangan pengguna smartphone di Indonesia. Path menawarkan privasi, dan keamanan dengan menghilangkan fitur repost, retweet atau share status yang memungkinkan seseorang untuk menyebarkan keluh kesah orang lain. Banyak orang berpikir bahwa hanya karena tidak adanya fitur-fitur ini, maka mengeluh di Path itu aman.

Tapi realitanya tidak begitu. Dengan fitur sceenshot yang dimiliki oleh smartphone, memungkinkan seseorang untuk tidak hanya menyebarkan isi keluhan, namun juga nama. Di saat kita dengan waspada atau dengan menggunakan nama alias di twitter atau facebook bisa berbicara dengan kesadaran bahwa apapun yang kita katakan dapat dibaca publik. Kewaspadaan itu hilang saat kita memposting itu

Apa yang salah?

Saya percaya bahwa keamanan berkeluh kesah di Path seharusnya dapat terjaga. Masalahnya adalah orang-orang mulai menambah orang-orang yang mereka bahkan tidak kenal ke dalam lingkaran pertemanan mereka di Path. Bagaimana kita bisa tahu siapa yang bisa kita percaya dengan keluh kesah kita kalau kita bahkan tidak mengenal orang-orang ini.

Btw, itu kenapa saya tidak meng-add beberapa orang yang sudah berada di friend request saya selama beberapa bulan. Antara rasa tidak enak mau menolak, dan rasa tidak aman menambahkan mereka ke deretan orang-orang yang bisa mengetahui di mana saya berada, ngapain, dengan siapa, dan apa yang saya pikirkan tentang seseorang yang lain, partai politik, pemerintah, kelompok, organisasi masa, figur publik, dan lain sebagainya. Saya hanya bingung apakah ini tidak pernah menjadi pertimbangan mereka yang tiba-tiba saja sudah punya 200 orang di deretan teman di Path. Apakah mereka percaya dengan semua orang itu?

Saya yakin itu pulalah yang terjadi pada seorang mahasiswa bernama I Wayan Hery C. Mahasiswa di Kota Palu ini mengeluhkan bahwa dirinya merasa terganggu dengan suara takbiran pada perayaan Idul Adha kemarin. Keluhannya di Path ini dicapture seseorang, tentu saja salah seorang yang ada di Path friendslistnya, dan disebarkan di facebook. Alhasil dia diciduk dengan tuduhan menghina dan menyebarkan kebencian di social media.

Ya, pastinya saya merasa sah-sah saja seseorang merasa terganggu saat mendengar suara berisik. Sama seperti saya merasa terganggu dengan tetangga saya yang sering menyetel lagu sangat keras, atau saya yang merasa terganggu kalau ada bayi menangis di transportasi umum di mana saya tidak bisa kabur dari situasi itu. Tentu saja terlepas dari pendapat saya mengenai betapa konyolnya tuduhan itu, saya merasa sangat tidak bijaksana menambahkan orang-orang yang tidak bisa kita percaya di Path.

Berita lengkapnya ada di sini:

http://www.merdeka.com/peristiwa/tulis-status-di-fb-terganggu-takbiran-pria-ini-ditangkap-polisi.html

http://www.antaranews.com/berita/457618/keluarga-tersangka-penistaan-agama-minta-maaf

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/10/09/nd51y4-hina-takbir-idul-adha-pria-ini-terjerat-pasal-penistaan-agama

Ya… ya..

Saya sudah kehilangan kepercayaan pada media-media di Indonesia yang suka membesar-besarkan masalah. Orang bilang “terganggu suara takbir”, diberitakannya “menghina agama”. Memang orang-orang golongan tertentu suka sensi sendiri kalau dibilang berisik. Wapres saja pernah mengeluh terganggu suara adzan di pidatonya, tapi beliau tidak pernah dibilang menistakan atau menghina agama kan? Namanya saja orang terganggu polusi suara…

Yah…

Baiknya yang seperti ini jadi pelajaran saja. Saya jauh-jauh saja dari sana. Daah…

Online Witch Hunt

Standard

Brenda Leyland ditemukan meninggal di Leicestershire Hotel. 

Siapa sih Brenda Leyland?

Tujuh tahun yang lalu, sepasang suami istri — Mr dan Mrs McCann berlibur ke Portugal bersama dengan putri mereka. Naas, Putri mereka hilang tanpa jejak. Dugaan sampai hari ini adalah, Madeline, nama anak itu hilang diculik di Portugal saat orang tuanya tidak waspada. Tapi beberapa orang lain menduga bahwa ini hasil dari kelalaian orang tuanya.

Tujuh tahun sejak saat itu, kasus hilangnya Madeline McCann masih belum terpecahkan. Orang-orang masih ingat akan kasus itu dan sesekali berkomentar di sosial media mengenai hal tersebut. Terutama bagi yang percaya bahwa hilangnya Madeline adalah kesalahan orang tuanya. Mr dan Mrs McCann pun mendapatkan banyak gangguan di media sosial, salah satunya melalui twitter.

Brenda Leyland, diduga adalah salah satu yang banyak menyerang suami istri McCann melalui Twitter. Anonimitasnya terbongkar setelah seorang wartawan membuka idenditasnya dalam sebuah wawancara. Saat ditanya oleh reporter tersebut Brenda Leyland hanya mengatakan bahwa dia berhak mengatakan apapun yang dia mau di media sosial.

Dua hari kemudian, Leyland ditemukan meninggal di sebuah hotel di Leicestershire, Inggris.

Mengapa saya tertarik dengan kasus ini?

Kasus ini mengingatkan saya kepada kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pria yang identitasnya dibongkar di media sosial setelah dijebak oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai Paedophile Hunter.

Paedophile Hunter adalah sebuah acara dokumenter di televisi, dengan karakter utama Stinson Hunter — yang bersama teman-temannya membentuk grup vigilante. Mereka memancing dan menjebak paedophile di internet dan merekam semua aktivitasnya di video, dan menyerahkan bukti kepada polisi untuk ditangani lebih lanjut. Tidak hanya berhenti di sana, mereka juga membongkar identitas asli orang-orang ini di media sosial, dan saya rasa inilah masalahnya.

Kasus Paedophile Hunter dan Brenda Leyland mungkin terdengar sebagai dua kasus yang berbeda, tetapi akar masalahnya sama. Sejauh apa keamanan identitas kita di dunia maya?

Baik Brenda Leyland maupun pria yang bunuh diri setelah identitasnya dikuak oleh Paedophile Hunter merasa bahwa identitasnya tidak lagi aman. Mereka mengalami tekanan sosial dan merasa dihakimi oleh masyarakat karena apa yang mereka lakukan di dunia maya mungkin tidak sesuai dengan norma sosial yang ada di sekitar mereka.

Membongkar identitas asli seseorang di dunia maya tanpa seijin pemilik identitas dapat memicu penghakiman massa, tidak hanya bagi individu yang identitasnya dibongkar, namun juga bagi keluarga mereka. Itulah sebabnya Jurnalis Time Yenny Kwok sungguh marah besar ketika tidak hanya identitasnya namun juga keluarganya dibawa-bawa oleh Ratna Sarumpaet di Twitter.

Tidak banyak orang menyadari betapa pentingnya anonimitas itu, terutama bagi orang yang belum dibuktikan bersalah melanggar hukum. Bahkan menurut saya, apabila memang ada dugaan pelanggaran hukum, cukup laporkan dan berikan buktinya ke pihak yang berwajib, dan biarkan hukum berproses sendiri.

Tidak perlu melakukan pengadilan massa. 

Netizen di Indonesia masih belum mengerti mengenai hal ini.

Banyak teman-teman saya yang mati-matian menjaga identitas mereka tetap anonim di Facebook karena mereka merupakan anggota dari keompok-kelompok yang tergolong “tidak aman”. Misalnya teman-teman saya dari Indonesian Atheist, atau teman-teman saya yang yang merupakan aktivis LGBT, memilih untuk menjalani kehidupan ganda.

Mengapa?

Karena sekali identitas mereka terbongkar, dampaknya tidak hanya kepada mereka saja, namun juga kepada orang-orang yang dekat dengan mereka. Keluarga, misalnya, akan menjadi bulan-bulanan.

Saya ingat betul kasus yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk tidak pernah lagi membuka salah satu forum terbesar di Indonseia. Kasusnya adalah mengenai dugaan seorang pemilik petshop di Jakarta yang melakukan wanprestasi, yang mengakibatkan kematian 3 ekor anjing StBernard.

Sebagai pencinta anjing tentu saja saya sangat marah dengan kejadian ini, dan dalam hati mengutuk-ngutuk dan berjanji untuk mengingatkan para pencinta anjing yang lain untuk tidak lagi membeli anjing dari petshop melainkan dari breeder yang terlisensi atau adopsi dari tim penyelamat anjing. Tetapi yang membuat saya ngeri adalah bagaimana anggota dari forum tersebut bereaksi terhadap kasus ini.

Mereka meneror pemilik petshop. Tidak berhenti di sana, mereka memajang foto pemilik petshop di forum tersebut (mohon diingat pada saat itu proses hukum belum dimulai dan Indonesia menganut asas praduga tak bersalah). Dan tidak hanya itu, mereka juga mengunggah foto anak dan istri pemilik petshop tersebut (entah apa tujuannya), dan yang lebih parah mereka juga memajang alamat RUMAH (bukan alamat toko/bisnis/tempatkerja).

Baru sampai situ saja saya merasa sudah terlalu banyak pelanggaran hukum yang dilakukan oleh poster di forum itu.  Bagaimana kalau ternyata dia tidak pernah terbukti secara hukum bersalah? Bagaimana kalau ternyata secara hukum kesalahan ada pada sopir atau karyawan yang korupsi? Bagaimana?

Banyak kasus lain yang serupa di forum tersebut. Penjual telat mengirim barang, foto dan alamat rumahnya sudah ada di thread lain, siap untuk diteror. Pembeli lupa mentransfer, fotonya sudah dipajang besar-besar dibilang penipu lah dan sebagainya. Bukankah ini sudah termasuk internet bullying?

Dimana UU ITE saat kasus semacam ini merebak? Kenapa hanya melulu konten porno yang dipermasalahkan sedangkan hal yang menurut saya lebih membahayakan dibiarkan bebas berlangsung?

Ya silahkan buat cyber police… tapi jangan cyber vigilante.

Update Sedikit…

Standard

Lho? Judulnya pakai bahasa Indonesia?

Iyah. Postingannya juga.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti jejak Bedjo, untuk menulis blog dalam bahasa Indonesia. Kenapa?

Kemarin dulu alasan saya untuk menulis dalam bahasa Inggris adalah karena saya butuh latihan. Bukan berarti saya sudah tidak lagi butuh berlatih bahasa Inggris, tapi kebutuhan saya untuk berlatih bahasa Inggris tidak lagi se-urgent waktu itu. Lagipula yang butuh saya latih saat ini bukan lagi keterampilan menulis, tapi keterampilan berkomunikasi langsung tanpa merasa kagok.

Masih dalam tahap latihan.

Yang saya rasakan akhir-akhir ini, terutama kalau saya sedang Whatsapp-an dengan adik-adik saya, kok saya merasa kosa kata bahasa Indonesia saya mulai berkurang ya? Saya masih rajin membaca berita dari Kompas atau Tempo, tapi sepertinya karena saya bisa dibilang hampir tidak pernah berkomunikasi dengan orang Indonesia atau dalam bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari saya jadi kagok.

Saya tidak mau berakhir seperti Tante Amerika (bagi angkatan 90’an yang sempat nonton Tersanjung seri-seri awal), atau Cinta Laura (bagi angkatan yang lebih muda yang lebih familiar dengan selebriti yang ini). Saya tidak ada masalah dengan orang yang mengalami kesulitan aksen karena terbiasa tinggal di luar negeri. Tapi saya merasa sebagai orang yang 20 tahun lebih hidupnya dihabiskan di Indonesia, saya akan terdengar sebagai bule wannabe kalau pulang membawa aksen asing.

Saya tidak mau juga dibilang Asal British. Jadi, kehilangan kefasihan berbahasa saya benar-benar membuat saya agak was-was. Sangat was-was karena nilai bahasa Indonesia saya selama sekolah tidak pernah kurang dari delapan. Saya yakin bahasa Indonesia saya sampai hari ini harusnya tetap lebih baik daripada Bahasa Inggris saya.

Wong saya ini native speaker.

Jadi, sudah saya putuskan, mulai sekarang saya akan mulai menulis dalam bahasa Indonesia lagi. Kalau ada tulisan berbahasa Inggris, mungkin saya akan memuatnya di blog yang lain.

Update berikutnya adalah soal resepsi. Saya sudah berusaha menghubungi teman-teman di Indonesia mengenai acara ini. Saya juga minta maaf kalau undangannya terlalu mepet bagi yang berada di luar Solo.

Jadi, akhir bulan ini rencananya saya akan pulang kampung. Tidak lama karena kami harus segera balik ke Norwich berhubung Mr.Fix-It harus kerja lagi. Jangan tanya soal bulan madu… rasanya itu bisa diundur sampai batas waktu yang tidak pernah ditentukan 😦

Apakah saya  semangat buat resepsian kali ini?

Entah yaa…

Saya tidak tahu berapa banyak teman-teman dekat saya yang bisa datang. Saya juga merasa bahwa resepsi ini sebagian besar adalah untuk orang tua saya, dan bukan untuk saya sendiri. Misalnya: mereka maunya ada pernikahan di Gereja (padahal saya udah ga pernah ke gereja selama 8 tahun terakhir). Atau mereka maunya ada ini itu di resepsi, padahal saya maunya sederhana saja. Tapi, berhubung saya tidak ada di lokasi, dan biaya resepsi dll mereka yang nanggung, alhasi saya cuma bisa ngikut saja.

Sungguh berbeda rasanya dengan acara pernikahan saya kemarin di Norwich. Tidak ada acara mewah-mewahan. Tidak ada undangan bejibun. Yang ada hanyalah orang-orang terdekat dan acara yang singkat tapi dekat. Semua pulang dengan wajah sumringah, termasuk kami berdua.

Ah… Saya hanya berharap teman-teman dekat saya bisa hadir di acara itu. Paling tidak, kalau saya tidak hepi dengan settingan acaranya, saya bisa ajak suami saya mojok ngobrol dengan kalian. Lagipula saya anggap saja itu kesempatan buat bertemu dengan teman-teman yang belum pernah saya temui sebelumnya 🙂

Update yang lain…? Tidak banyak

Saya masih belum dapat pekerjaan. Rasanya sulit saya mau cari kerja apa pun kalau saya tahu saya harus langsung ambil cuti. Tapi itu bukan berarti saya nganggur enak-enak saja. Saya masih rajin sebar CV, dan sementara ini sudah ada beberapa interview meskipun belum ada yang tembus. Yang jadi masalah adalah beberapa pekerjaan membutuhkan saya untuk punya SIM inggris.

Ini yang susah.

SIM indonesia saya aja hilang entah kemana.

Kebiasaan nyetir tanpa SIM di Indonesia tidak bisa diterapkan di sini.

Terus ada beberapa jenis tes yang saya tidak pernah bisa tembus. Semacam tes kepribadian gitu (mungkin yang kerja di HR tahu lebih banyak tentang ini). Jadi ceritanya saya disuruh memilih diantara tiga pernyataan — satu yang paling mewakili saya, dan satu yang paling tidak mewakili saya. Nah dari sana mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa saya tidak cocok kerja berhadapan dengan orang.

Yah, memang bener sih saya ga sabar menghadapi tamu atau klien. Tapi… tapi… tapi kan…

Jadi begitulah kira-kira yang terjadi selama saya tidak menulis. Moga-moga saya bisa menulis lebih rajin. Apalagi menjelang tahun baru… Saya masih harus mengejar target postingan kan?