Update Sedikit…

Standard

Lho? Judulnya pakai bahasa Indonesia?

Iyah. Postingannya juga.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti jejak Bedjo, untuk menulis blog dalam bahasa Indonesia. Kenapa?

Kemarin dulu alasan saya untuk menulis dalam bahasa Inggris adalah karena saya butuh latihan. Bukan berarti saya sudah tidak lagi butuh berlatih bahasa Inggris, tapi kebutuhan saya untuk berlatih bahasa Inggris tidak lagi se-urgent waktu itu. Lagipula yang butuh saya latih saat ini bukan lagi keterampilan menulis, tapi keterampilan berkomunikasi langsung tanpa merasa kagok.

Masih dalam tahap latihan.

Yang saya rasakan akhir-akhir ini, terutama kalau saya sedang Whatsapp-an dengan adik-adik saya, kok saya merasa kosa kata bahasa Indonesia saya mulai berkurang ya? Saya masih rajin membaca berita dari Kompas atau Tempo, tapi sepertinya karena saya bisa dibilang hampir tidak pernah berkomunikasi dengan orang Indonesia atau dalam bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari saya jadi kagok.

Saya tidak mau berakhir seperti Tante Amerika (bagi angkatan 90’an yang sempat nonton Tersanjung seri-seri awal), atau Cinta Laura (bagi angkatan yang lebih muda yang lebih familiar dengan selebriti yang ini). Saya tidak ada masalah dengan orang yang mengalami kesulitan aksen karena terbiasa tinggal di luar negeri. Tapi saya merasa sebagai orang yang 20 tahun lebih hidupnya dihabiskan di Indonesia, saya akan terdengar sebagai bule wannabe kalau pulang membawa aksen asing.

Saya tidak mau juga dibilang Asal British. Jadi, kehilangan kefasihan berbahasa saya benar-benar membuat saya agak was-was. Sangat was-was karena nilai bahasa Indonesia saya selama sekolah tidak pernah kurang dari delapan. Saya yakin bahasa Indonesia saya sampai hari ini harusnya tetap lebih baik daripada Bahasa Inggris saya.

Wong saya ini native speaker.

Jadi, sudah saya putuskan, mulai sekarang saya akan mulai menulis dalam bahasa Indonesia lagi. Kalau ada tulisan berbahasa Inggris, mungkin saya akan memuatnya di blog yang lain.

Update berikutnya adalah soal resepsi. Saya sudah berusaha menghubungi teman-teman di Indonesia mengenai acara ini. Saya juga minta maaf kalau undangannya terlalu mepet bagi yang berada di luar Solo.

Jadi, akhir bulan ini rencananya saya akan pulang kampung. Tidak lama karena kami harus segera balik ke Norwich berhubung Mr.Fix-It harus kerja lagi. Jangan tanya soal bulan madu… rasanya itu bisa diundur sampai batas waktu yang tidak pernah ditentukan đŸ˜¦

Apakah saya  semangat buat resepsian kali ini?

Entah yaa…

Saya tidak tahu berapa banyak teman-teman dekat saya yang bisa datang. Saya juga merasa bahwa resepsi ini sebagian besar adalah untuk orang tua saya, dan bukan untuk saya sendiri. Misalnya: mereka maunya ada pernikahan di Gereja (padahal saya udah ga pernah ke gereja selama 8 tahun terakhir). Atau mereka maunya ada ini itu di resepsi, padahal saya maunya sederhana saja. Tapi, berhubung saya tidak ada di lokasi, dan biaya resepsi dll mereka yang nanggung, alhasi saya cuma bisa ngikut saja.

Sungguh berbeda rasanya dengan acara pernikahan saya kemarin di Norwich. Tidak ada acara mewah-mewahan. Tidak ada undangan bejibun. Yang ada hanyalah orang-orang terdekat dan acara yang singkat tapi dekat. Semua pulang dengan wajah sumringah, termasuk kami berdua.

Ah… Saya hanya berharap teman-teman dekat saya bisa hadir di acara itu. Paling tidak, kalau saya tidak hepi dengan settingan acaranya, saya bisa ajak suami saya mojok ngobrol dengan kalian. Lagipula saya anggap saja itu kesempatan buat bertemu dengan teman-teman yang belum pernah saya temui sebelumnya đŸ™‚

Update yang lain…? Tidak banyak

Saya masih belum dapat pekerjaan. Rasanya sulit saya mau cari kerja apa pun kalau saya tahu saya harus langsung ambil cuti. Tapi itu bukan berarti saya nganggur enak-enak saja. Saya masih rajin sebar CV, dan sementara ini sudah ada beberapa interview meskipun belum ada yang tembus. Yang jadi masalah adalah beberapa pekerjaan membutuhkan saya untuk punya SIM inggris.

Ini yang susah.

SIM indonesia saya aja hilang entah kemana.

Kebiasaan nyetir tanpa SIM di Indonesia tidak bisa diterapkan di sini.

Terus ada beberapa jenis tes yang saya tidak pernah bisa tembus. Semacam tes kepribadian gitu (mungkin yang kerja di HR tahu lebih banyak tentang ini). Jadi ceritanya saya disuruh memilih diantara tiga pernyataan — satu yang paling mewakili saya, dan satu yang paling tidak mewakili saya. Nah dari sana mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa saya tidak cocok kerja berhadapan dengan orang.

Yah, memang bener sih saya ga sabar menghadapi tamu atau klien. Tapi… tapi… tapi kan…

Jadi begitulah kira-kira yang terjadi selama saya tidak menulis. Moga-moga saya bisa menulis lebih rajin. Apalagi menjelang tahun baru… Saya masih harus mengejar target postingan kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s