Online Witch Hunt

Standard

Brenda Leyland ditemukan meninggal di Leicestershire Hotel. 

Siapa sih Brenda Leyland?

Tujuh tahun yang lalu, sepasang suami istri — Mr dan Mrs McCann berlibur ke Portugal bersama dengan putri mereka. Naas, Putri mereka hilang tanpa jejak. Dugaan sampai hari ini adalah, Madeline, nama anak itu hilang diculik di Portugal saat orang tuanya tidak waspada. Tapi beberapa orang lain menduga bahwa ini hasil dari kelalaian orang tuanya.

Tujuh tahun sejak saat itu, kasus hilangnya Madeline McCann masih belum terpecahkan. Orang-orang masih ingat akan kasus itu dan sesekali berkomentar di sosial media mengenai hal tersebut. Terutama bagi yang percaya bahwa hilangnya Madeline adalah kesalahan orang tuanya. Mr dan Mrs McCann pun mendapatkan banyak gangguan di media sosial, salah satunya melalui twitter.

Brenda Leyland, diduga adalah salah satu yang banyak menyerang suami istri McCann melalui Twitter. Anonimitasnya terbongkar setelah seorang wartawan membuka idenditasnya dalam sebuah wawancara. Saat ditanya oleh reporter tersebut Brenda Leyland hanya mengatakan bahwa dia berhak mengatakan apapun yang dia mau di media sosial.

Dua hari kemudian, Leyland ditemukan meninggal di sebuah hotel di Leicestershire, Inggris.

Mengapa saya tertarik dengan kasus ini?

Kasus ini mengingatkan saya kepada kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pria yang identitasnya dibongkar di media sosial setelah dijebak oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai Paedophile Hunter.

Paedophile Hunter adalah sebuah acara dokumenter di televisi, dengan karakter utama Stinson Hunter — yang bersama teman-temannya membentuk grup vigilante. Mereka memancing dan menjebak paedophile di internet dan merekam semua aktivitasnya di video, dan menyerahkan bukti kepada polisi untuk ditangani lebih lanjut. Tidak hanya berhenti di sana, mereka juga membongkar identitas asli orang-orang ini di media sosial, dan saya rasa inilah masalahnya.

Kasus Paedophile Hunter dan Brenda Leyland mungkin terdengar sebagai dua kasus yang berbeda, tetapi akar masalahnya sama. Sejauh apa keamanan identitas kita di dunia maya?

Baik Brenda Leyland maupun pria yang bunuh diri setelah identitasnya dikuak oleh Paedophile Hunter merasa bahwa identitasnya tidak lagi aman. Mereka mengalami tekanan sosial dan merasa dihakimi oleh masyarakat karena apa yang mereka lakukan di dunia maya mungkin tidak sesuai dengan norma sosial yang ada di sekitar mereka.

Membongkar identitas asli seseorang di dunia maya tanpa seijin pemilik identitas dapat memicu penghakiman massa, tidak hanya bagi individu yang identitasnya dibongkar, namun juga bagi keluarga mereka. Itulah sebabnya Jurnalis Time Yenny Kwok sungguh marah besar ketika tidak hanya identitasnya namun juga keluarganya dibawa-bawa oleh Ratna Sarumpaet di Twitter.

Tidak banyak orang menyadari betapa pentingnya anonimitas itu, terutama bagi orang yang belum dibuktikan bersalah melanggar hukum. Bahkan menurut saya, apabila memang ada dugaan pelanggaran hukum, cukup laporkan dan berikan buktinya ke pihak yang berwajib, dan biarkan hukum berproses sendiri.

Tidak perlu melakukan pengadilan massa. 

Netizen di Indonesia masih belum mengerti mengenai hal ini.

Banyak teman-teman saya yang mati-matian menjaga identitas mereka tetap anonim di Facebook karena mereka merupakan anggota dari keompok-kelompok yang tergolong “tidak aman”. Misalnya teman-teman saya dari Indonesian Atheist, atau teman-teman saya yang yang merupakan aktivis LGBT, memilih untuk menjalani kehidupan ganda.

Mengapa?

Karena sekali identitas mereka terbongkar, dampaknya tidak hanya kepada mereka saja, namun juga kepada orang-orang yang dekat dengan mereka. Keluarga, misalnya, akan menjadi bulan-bulanan.

Saya ingat betul kasus yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk tidak pernah lagi membuka salah satu forum terbesar di Indonseia. Kasusnya adalah mengenai dugaan seorang pemilik petshop di Jakarta yang melakukan wanprestasi, yang mengakibatkan kematian 3 ekor anjing StBernard.

Sebagai pencinta anjing tentu saja saya sangat marah dengan kejadian ini, dan dalam hati mengutuk-ngutuk dan berjanji untuk mengingatkan para pencinta anjing yang lain untuk tidak lagi membeli anjing dari petshop melainkan dari breeder yang terlisensi atau adopsi dari tim penyelamat anjing. Tetapi yang membuat saya ngeri adalah bagaimana anggota dari forum tersebut bereaksi terhadap kasus ini.

Mereka meneror pemilik petshop. Tidak berhenti di sana, mereka memajang foto pemilik petshop di forum tersebut (mohon diingat pada saat itu proses hukum belum dimulai dan Indonesia menganut asas praduga tak bersalah). Dan tidak hanya itu, mereka juga mengunggah foto anak dan istri pemilik petshop tersebut (entah apa tujuannya), dan yang lebih parah mereka juga memajang alamat RUMAH (bukan alamat toko/bisnis/tempatkerja).

Baru sampai situ saja saya merasa sudah terlalu banyak pelanggaran hukum yang dilakukan oleh poster di forum itu.  Bagaimana kalau ternyata dia tidak pernah terbukti secara hukum bersalah? Bagaimana kalau ternyata secara hukum kesalahan ada pada sopir atau karyawan yang korupsi? Bagaimana?

Banyak kasus lain yang serupa di forum tersebut. Penjual telat mengirim barang, foto dan alamat rumahnya sudah ada di thread lain, siap untuk diteror. Pembeli lupa mentransfer, fotonya sudah dipajang besar-besar dibilang penipu lah dan sebagainya. Bukankah ini sudah termasuk internet bullying?

Dimana UU ITE saat kasus semacam ini merebak? Kenapa hanya melulu konten porno yang dipermasalahkan sedangkan hal yang menurut saya lebih membahayakan dibiarkan bebas berlangsung?

Ya silahkan buat cyber police… tapi jangan cyber vigilante.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s