Mengeluh Di PATH Bisa Dipenjara?

Standard

PATH adalah mobile apps yang saat ini sedang booming di kalangan pengguna smartphone di Indonesia. Path menawarkan privasi, dan keamanan dengan menghilangkan fitur repost, retweet atau share status yang memungkinkan seseorang untuk menyebarkan keluh kesah orang lain. Banyak orang berpikir bahwa hanya karena tidak adanya fitur-fitur ini, maka mengeluh di Path itu aman.

Tapi realitanya tidak begitu. Dengan fitur sceenshot yang dimiliki oleh smartphone, memungkinkan seseorang untuk tidak hanya menyebarkan isi keluhan, namun juga nama. Di saat kita dengan waspada atau dengan menggunakan nama alias di twitter atau facebook bisa berbicara dengan kesadaran bahwa apapun yang kita katakan dapat dibaca publik. Kewaspadaan itu hilang saat kita memposting itu

Apa yang salah?

Saya percaya bahwa keamanan berkeluh kesah di Path seharusnya dapat terjaga. Masalahnya adalah orang-orang mulai menambah orang-orang yang mereka bahkan tidak kenal ke dalam lingkaran pertemanan mereka di Path. Bagaimana kita bisa tahu siapa yang bisa kita percaya dengan keluh kesah kita kalau kita bahkan tidak mengenal orang-orang ini.

Btw, itu kenapa saya tidak meng-add beberapa orang yang sudah berada di friend request saya selama beberapa bulan. Antara rasa tidak enak mau menolak, dan rasa tidak aman menambahkan mereka ke deretan orang-orang yang bisa mengetahui di mana saya berada, ngapain, dengan siapa, dan apa yang saya pikirkan tentang seseorang yang lain, partai politik, pemerintah, kelompok, organisasi masa, figur publik, dan lain sebagainya. Saya hanya bingung apakah ini tidak pernah menjadi pertimbangan mereka yang tiba-tiba saja sudah punya 200 orang di deretan teman di Path. Apakah mereka percaya dengan semua orang itu?

Saya yakin itu pulalah yang terjadi pada seorang mahasiswa bernama I Wayan Hery C. Mahasiswa di Kota Palu ini mengeluhkan bahwa dirinya merasa terganggu dengan suara takbiran pada perayaan Idul Adha kemarin. Keluhannya di Path ini dicapture seseorang, tentu saja salah seorang yang ada di Path friendslistnya, dan disebarkan di facebook. Alhasil dia diciduk dengan tuduhan menghina dan menyebarkan kebencian di social media.

Ya, pastinya saya merasa sah-sah saja seseorang merasa terganggu saat mendengar suara berisik. Sama seperti saya merasa terganggu dengan tetangga saya yang sering menyetel lagu sangat keras, atau saya yang merasa terganggu kalau ada bayi menangis di transportasi umum di mana saya tidak bisa kabur dari situasi itu. Tentu saja terlepas dari pendapat saya mengenai betapa konyolnya tuduhan itu, saya merasa sangat tidak bijaksana menambahkan orang-orang yang tidak bisa kita percaya di Path.

Berita lengkapnya ada di sini:

http://www.merdeka.com/peristiwa/tulis-status-di-fb-terganggu-takbiran-pria-ini-ditangkap-polisi.html

http://www.antaranews.com/berita/457618/keluarga-tersangka-penistaan-agama-minta-maaf

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/10/09/nd51y4-hina-takbir-idul-adha-pria-ini-terjerat-pasal-penistaan-agama

Ya… ya..

Saya sudah kehilangan kepercayaan pada media-media di Indonesia yang suka membesar-besarkan masalah. Orang bilang “terganggu suara takbir”, diberitakannya “menghina agama”. Memang orang-orang golongan tertentu suka sensi sendiri kalau dibilang berisik. Wapres saja pernah mengeluh terganggu suara adzan di pidatonya, tapi beliau tidak pernah dibilang menistakan atau menghina agama kan? Namanya saja orang terganggu polusi suara…

Yah…

Baiknya yang seperti ini jadi pelajaran saja. Saya jauh-jauh saja dari sana. Daah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s