Istanbul, Satu Kota Seribu Cerita

Standard

Mungkin agak terlambat kalau saya menceritakan tentang liburan saya saat Lebaran kemarin, tapi tetap saja saya ingin berbagi, siapa tahu saja di antara kalian ada yang ingin jalan-jalan ke Turki di waktu yang akan datang. Sebelumnya, saya ingin memberi dua tips mengenai kapan waktu yang tepat untuk berlibur ke Turki.

1. Mungkin memang waktu yang paling pas buat kita berlibur, terutama yang di Indonesia adalah pada saat lebaran. Tapi pergi ke Turki pada saat lebaran sungguh bukan waktu yang tepat. Bayangkan macetnya arus mudik? Ya, demikian juga keadaan lalu lintas di Turki. Kenapa? Karena mayoritas penduduk Turki beragama Islam, dan mereka juga merayakan Ramadan, beberapa tempat wisata kemungkinan ditutup atau tutup setengah hari karena perayaan ini juga, jadi sayang sekali kalau harus menghabiskan waktu di jalan karena terjebak macet seperti yang saya alami kemarin di Turki.

2. Karena lokasinya, beberapa wilayah Turki memiliki iklim mediterania. Turki mengalami musim dingin-penghujan yang bisa membuat orang menggigil kedinginan, juga musim panas yang kering dan gerah. Pergi ke Turki pada bulan-bulan musim panas seperti yang saya lakukan kemarin sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi kita yang tinggal di negara tropis. Tentu saja berbeda bagi wisatawan Eropa yang senangnya bukan main kalau melihat cahaya matahari, kita akan sibuk mencari perlindungan pohon atau payung dan berlapis-lapis krim untuk melindungi kita dari sengatan matahari. Takut gosong bok!! Jadi, sebaiknya pergi ke Turki pada bulan-bulan Maret di mana kalian bisa menikmati tulip bermekaran di istana Topkapi, atau akhir September di saat cuaca tidak terlalu panas.

Istanbul ini adalah kota terbesar di Turki, tapi jangan salah, Istanbul bukanlah ibukota Turki. Ibukota Turki berada di Ankara, letaknya di daerah Anatolia. Mengapa kota terbesar di Turki tidak sekalian saja dijadikan ibukota, seperti Jakarta, misalnya?

Nah, bapak pendiri Republik Turki, sekaligus presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk memiliki visi yang besar terhadap negara ini. Dia tahu benar bahwa sebagai ibukota, sebuah wilayah harus memiliki fasilitas infrastruktur yang baik. Istanbul pada saat itu sudah terlalu penuh untuk dibangun ulang, maka dipilihlah Ankara sebagai ibu kota. Dimana letak Ankara ini tidak hanya strategis, tetapi masih memberi ruang untuk membangun gedung-gedung bisnis dan administrasi negara tanpa merombak gedung-gedung tua bersejarah di Istanbul.

Tahu dari mana saya semua itu?

Tour guide kami selama di Turki, Erkan, mungkin adalah tour guide terbaik yang pernah saya temui. Tidak hanya dengan sabar menjelaskan mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi, namun juga sangat informatif mengenai hal-hal di luar itu. Erkan tahu banyak hal dari sejarah agama, politik maupun sejarah arkeologi, yang membuat seminggu bersama tur ini membuat saya merasa sudah menjadi ahlinya Turki.

Karena sudah menjadi tour guide selama lebih dari 10 tahun, dan sudah memimpin tur untuk grup orang Indonesia selama itu juga, kemampuan bahasa Indonesia Erkan sangat baik. Ini sangat membantu bagi anggota keluarga kami yang tidak bisa berbahasa Inggris seperti orang tua saya. Dan, mengenal betul sifat orang Indonesia, Erkan memutuskan untuk membagi tur Istanbul menjadi dua hari. Hari pertama sesaat setelah kami mendarat, dan hari terakhir sebelum kami pulang.

Ide yang bagus. Karena ternyata kami harus terjebak 9 jam kemacetan saat hendak keluar dari Istanbul, menuju ke Canakkale. Ya, benar… arus mudik lebaran. Istanbul adalah kota termacet di Turki, kami tahu itu di hari pertama liburan kami.

Harus saya akui hari pertama saya di Turki, di Istanbul benar-benar melelahkan.

Meskipun tur dimulai di Istanbul, tapi perjalanan saya dimulai duapuluh empat jam sebelumnya di Norwich. Karena saya tidak lagi berdomisili di Indonesia, saya bergabung dengan anggota tur yang lain di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul. Hanya saja, karena perbedaan waktu penerbangan, saya harus menunggu di dalam bandara selama kurang lebih tujuh jam. Tanpa internet.

Mengantuk dan kelaparan, saya tidak bisa melakukan apa-apa selain membeli air minum dan cemilan dari vending machine. Karena tidak ada internet sama sekali, saya tidak bisa mengontak siapa pun.  Lagipula batere saya sudah mau mati karena menunggu sekian lama. Alhasil saya harus menunggu di tempat di mana anggota keluarga saya akan mengambil bagasi nanti. Ah…

Ditambah dengan teriknya matahari musim panas di Turki, saya benar-benar tidak bisa seratus persen menikmati hari pertama di Istanbul. Padahal saya penasaran betul dengan tiga tempat ini, Hippodrome, Blue Mosque, dan Hagia Sopia. Tiga tempat bersejarah ini punya beribu cerita tentang Istanbul.

Advertisements

2 responses »

  1. Wah Istanbul aku juga ingin, setidaknya seminggu. Tapi nanti saja ya Mel kalau ribut-ribut di sudut situ sudah mereda.
    Liburan yang lalu ke Turki belum sempat muncul di blog.

    Like

    • Iyaa… Kemarin karena ikut tur, jadinya waktunya nggak leluasa, jadi cima 3 hari di sana. Kurang banget rasanya… Tapi sama, tunggu kelar dulu ribut-ribut di sananya…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s