Istanbul: Hippodrome, Blue Mosque, dan Hagia Sophia

Standard

Jauh sebelum Kota Istanbul dikenal dengan nama demikian, kota ini tidak lebih dari sekedar kota nelayan kecil dalam wilayah kekuasan kekaisaran Yunani dengan lokasi yang sangat strategis bernama Byzantium atau Byzantion. Saat berjayanya kekaisaran Romawi, Byzantium — karena lokasinya yang strategis itu, dijadikan sebagai pusat kekuasaan Romawi dan diberi nama Konstantinopel (Constantinople), atau Konstantinopolis (Constantinopolis), dari nama Kaisar Konstantin.

Berkembangnya kekaisaran Romawi ini sejalan dengan berkembangnya ajaran agama nasrani. Penduduk Byzantium yang sebelumnya adalah penganut agama Pagan Yunani, mulai beralih memeluk agama Nasrani mengikuti pemimpin mereka. Silih berganti pemimpin Konstantinopel ingin menjadikan kota ini sebagai kota suci, menggantikan posisi Roma sebagai pusat agama Kristen. Namun keruntuhan kekaisaran Romawi, diikuti dengan berkembangnya kekaisaran Ottoman, Konstatinopel pun jatuh, dan kemudian diberi nama Istanbul, dan Islam pun mulai dijadikan sebagai agama utama di kota tersebut.

Sekilas begitulah garis besar sejarah kota Istanbul. Apabila tertarik untuk tahu lebih banyak bisa google, atau mungkin mau menonton BBC Four Documentaries, Byzantium: A Tale of Three Cities. Ada tiga episode, dan saya rasa penjelasan maupun rekonstruksi kejadiannya sangat menarik untuk diikuti.

Nah… Perkembangan Istanbul dari jaman Byzantium sampai Ottoman empire itulah yang menyebabkan Istanbul sungguh kaya dengan budaya. Perkembangan agama di kota ini membuat Istanbul tidak hanya dianggap sebagai kota suci umat Islam, namun juga umat Kristen, Katolik dan juga penganut Pagan Yunani.

Hagia Sophia, misalnya. Hagia Sophia atau Aya Sophia artinya adalah Holy Wisdom atau kebijaksanaan suci.

Tidak jelas apakah saya harus menyebut Hagia Sophia sebagai gereja, kuil pagan atau masjid. Di dalam gedung yang luar biasa megah ini tidak hanya bisa kita lihat lukisan ataupun mosaik bergambar Bunda Maria dan Yesus, namun juga benda-benda pemujaan agama pagan dan juga aksara Arab yang menyimbolkan Islam.

IMG_6029

Pemandangan dari dalam Hagia Sophia yang berhasil saya foto sebelum batere ponsel saya benar-benar mati

Bangunan ini mencerminkan sikap orang Turki pada umumnya. Mereka menyambut baik semua agama, dan tidak fanatik terhadap satu agama tertentu. Orang Turki memiliki penghargaan tinggi terhadap tradisi dan juga kekayaan budaya mereka, dan mereka sangat mengerti bahwa menjaga kekayaan budaya ini jauh lebih penting daripada mempertahankan fanatisme sempit.

Hasilnya? Turki adalah negara Islam yang tidak terseret-seret perang di Timur Tengah. Erkan menjelaskan pada kami bahwa karena sikap bangsa Turki yang terbuka dan bhinneka, mereka dapat hidup tenang sebagai bangsa merdeka tanpa harus terjebak dalam perang seperti negara tetangga mereka, Syria.

Selain Hagia Sophia, di area yang sama kita juga bisa melihat Hippodrome. Hippodrome ini didirikan sebagai monumen kebesaran Konstantinopel sebagai pusat kekaisaran. Hippodrome adalah alun-alun, di mana di sana terpajang berbagai obelisks, dan juga patung yang melambangkan kebesaran kekaisaran Romawi pada saat itu.

Pada saat kedatangan pasukan Ottoman, Hippodrome tidak ikut jatuh bersama jatuhnya Konstantinopel. Sebaliknya Hippodrome diabadikan dan diganti nama menjadi Alun-alun Sultan Ahmed, atau Sultan Ahmed Square, atau dalam Bahasa Turki Sultanahmed Meydani. Dan, di area yang sama dibangun pula Masjid Sultan Ahmed, yang dikenal pula sebagai The Blue Mosque.

Kenapa masjid ini diberi nama masjid biru? Kalau kalian masuk ke dalamnya, kalian akan mengerti kenapa.

gambar diambil dari Wikipedia, karena ponsel saya sudah tidak bernyawa pada saat kami sampai di sini…

Interior masjid ini dihiasi dengan keramik iznik yang terkenal dengan motif bunga tulip berwarna biru. Jadi, saat kita masuk ke dalam masjid ini, kita akan dikelilingi warna biru yang menenangkan.

Inilah iznik pottery Turki yang terkenal itu (gambar juga saya ambil dari Wikipedia). Kerajinan tangan ini hanya dikuasai beberapa orang saja, salah satunya master potter yang akan kami temui nanti…

Bagi saya, tiga bangunan ini melambangkan perjalanan Kota Istanbul yang sesungguhnya. Tidak heran bahwa tiga objek wisata ini begitu populer, tidak hanya bagi turis tapi juga bagi para sejarawan. Tapi Istanbul tidak hanya tentang mereka, masih banyak cerita tentang Istanbul, seperti Istana Topkapi, Maiden Tower, dan indahnya Selat Bosphorus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s