Monthly Archives: May 2017

Indonistan Pt.2

Standard

BBC dan Guardian ikutan memberitakan Ahok divonis bersalah karena penistaan agama. Iya, saya tahunya dari situ, karena saya malas ngikutin berita online di Indonesia. Berita online di Indonesia masih belum selevel dengan berita TV atau koran, baik dari sisi cek dan ricek, bias, dan juga tata cara penulisan. Mungkin karena mereka maunya cepat, dan jadi yang pertama memberitakan sesuatu, lalu lupa bahwa “cepat” bukan satu-satunya tolok ukur reportase yang baik… “akurat” juga.

Eeeeniwei… saya bukan anak jurnalistik, cuma ikut kelas dasar-dasar jurnalistik satu semester saja. Jadi, biarlah anak (dan lulusan) studi jurnalistik yang mengomentari dunia jurnalisme online di Indonesia.

Kembali ke Ahok saja ya…

Setelah beberapa bulan persidangan, dengan berbagai macam kontroversi saat prosesnya, akhirnya calon mantan gubernur DKI Jakarta itu divonis bersalah juga. Meskipun saksi-saksi yang diajukan ternyata banyak yang bodong, meskipun ada bukti yang ternyata video editan… si Cina Kafir itu divonis bersalah juga.

Saya rasa memang sudah saatnya. Bukan saya menunggu-nunggu Ahok kena batunya, tapi saya tahu bahwa Indonesia belum siap dengan kebebasan berpendapat dan berbicara di ruang publik. Bukan saya merasa Ahok bersalah, tapi saya tahu bahwa negara ini memang tidak adil pada golongan minoritas. Saya tidak perlu menyebutkan contoh, karena semua orang bisa lihat sendiri — bukan cuma kalian yang di Indonesia, orang-orang di sini juga bisa lihat kok. Buktinya sampai diberitakan di BBC dan Guardian.

Kecewa? Hm… iya, sedikit. Kaget? Tidak sama sekali. Ingat Jessica? Atau Antasari Azhar?┬áSama seperti kedua kasus tersebut, bukti-bukti lemah, saksi-saksi tidak kredibel… tetap saja vonis bersalah. Dan seperti yang saya bilang waktu yang lalu — kalau ini bisa terjadi pada Jessica dan Antasari Azhar — dan sekarang Ahok, ini bisa terjadi pada siapa saja.

Sebenarnya saya malas ikut-ikutan komen… Tapi ini bulan Mei, dan biasanya di bulan Mei saya lebih sensi dari biasanya.

whatever…

Tiba-tiba nyesel revert back ke Bahasa Indonesia. I don’t feel like I want to be an Indonesian right now…

Advertisements

Kabayan…

Standard

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah ngobrol dengan orang pinter. Ngobrol dengan orang pinter — nggak harus ngobrol langsung lah, lewat facebook status aja misalnya, bisa menginspirasi saya. Dari inspirasi… tada… blog post!

Pernah denger tentang Kabayan? Kalo kamu seumuran sama saya, pasti kamu inget tokoh Kabayan dari buku pelajaran SD, atau dari film layar lebar si Kabayan yang diperankan oleh almarhum Didi Petet. Saya sendiri mengenal Kabayan lebih dekat karena papa saya yang asalnya dari Tasikmalaya, sangat suka dengan karaktern ini. Ya… Kabayan memang quintessentially Sunda. *mati gue, quintessential itu Bahasa Indonesianya apa ya?*

Karakter Kabayan ini digambarkan sebagai seorang yang berasal dari kampung, biasanya pengangguran proletar, juga tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Tapi, si Kabayan ini selain setengah mati jatuh cinta pada Nyi Iteung, anak gadis si Abah dan Ambu, juga terkenal baik hati dan cerdik luar biasa. Biasanya cerita berkisar mengenai Kabayan yang terlibat masalah karena Abah tidak menyetujui hubungannya dengan Nyi Iteung, tapi berhasil mengelabuhi Abah yang terkenal sebagai tokoh berpendidikan di kampungnya…

Ngerti kan?

Mau dibawa ke mana pembicaraan ini? Well… Ceritanya beberapa menit yang lalu saya membaca, mengomentari, dan akhirnya terlibat diskusi singkat dengan… um… si Gigit (sebut aja begitu, karena dia hobi membuat status facebook yang mengigit… oke? Terima aja). Nah, dari obrolan itu, saya dan si Gigit punya teori yang berbeda tentang orang bodoh, dan orang yang tidak berpendidikan.

Menurut saya, ada perbedaan yang mendasar antara orang bodoh, dan orang yang tidak berpendidikan. Meskipun keduanya sama-sama tidak diuntungkan keadaan, kita bisa mendidik orang yang tidak berpendidikan menjadi orang terdidik, tapi kita tidak bisa memintarkan orang yang pada dasarnya bodoh. Saya selalu menganalogikan otak manusia seperti prosesor komputer.

Orang bodoh adalah orang dengan kapasitas otak Intel Celeron… bagi yang masih muda dan imut, dan belom pernah denger Intel Celeron, itu adalah prosesor sebelum Intel Pentium, dan Intel Pentium adalah prosesor sebelum Intel Core. Sedangkan orang tidak berpendidikan itu adalah orang dengan HD yang masih kosong, karena belom download software apa-apa. Orang tidak berpendidikan bisa dididik, sama seperti kita bisa mengisi HD yang kosong… tapi kalo prosesornya ble’e, ya percuma softwarenya tidak bisa dipakai — seperti orang bodoh, bisa dikasih tahu tapi belom tentu mereka ngerti bagaimana menggunakan pengetahuan itu.

Bagaimana kamu tau itu orang pintar atau bodoh? Atau apakah dia berpendidikan atau tidak?

Seperti biasa saya punya pendapat yang tidak terlalu populer, tapi berhubung saya ngomong di blog saya sendiri, jadi tidak ada yang menyensor. Ahaay…

Menurut saya, tidak ada alat ukur pintar-bodoh, cantik/bagus-jelek, sehat-sakit, gendut-kurus, dan lain sebagainya yang mutlak dan sempurna. Tapi, ada alat ukur, dan secara definisi, yang namanya alat ukur itu harus bisa distandardisasi, dan standardisasi paling oke adalah yang bisa dikuantifikasi — artinya bisa ditunjukkan dengan angka… Misalnya, buat standar bagus/cantik-jelek kita punya golden ratio Fibonacci (kalo bingung, google! jangan males…). Kalau mau standar gendut-kurus kita pake standar BMI. Pintar bodoh pun bisa diukur dengan test IQ.

Yaa yaa yaa… IQ bukan segalanya, ada EQ ada SQ whatever… Saya ga peduli dengan yang dua terakhir itu. Tidak ada standardisasi EQ atau SQ, dan tanpa standar ukur, saya akan selalu ragukan objektivitas pengukurnya.

Balik ke si Kabayan ya? Saya yakin kalau Kabayan bisa dites IQ, dia bisa jadi punya IQ di atas rata-rata. Banyak kok orang dengan IQ tinggi tapi tidak sekolah. Banyak juga orang dengan IQ rendah lulus dengan nilai bagus di sekolah — kerja keras itu ngepek, Bro. Tapi maksudnya apa saya ngomong panjang lebar tentang ini, dan hubungannya dengan pembicaraan saya dengan si Gigit?

Jadi gini, Git… Kalo orang itu bodo, ya udah kamu nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ini menjawab pertanyaan: Kok bisa sih lulusan universitas negeri terkenal di Indonesia percaya sama teori bumi datar? Atau, kok bisa sih lulusan luar negeri macam si Blabla masih kolot, dan rasis macam begitu? Karena kita bisa mendidik orang bodoh, tapi kita tidak bisa membuat orang bodoh menjadi pintar… Ini masalah kapasitas otak, dan sayangnya sampai saat ini ga banyak cara untuk mengupgrade otak setelah lewat golden age. Buat orang-orang yang udah terlanjur tua dan bego, kamu bener… kita cuma bisa kasian karena buat mereka sudah terlambat…

Dan kamu juga bener, ini juga efek over populasi. Semakin banyak anak, semakin sedikit perhatian yang bisa diberikan kepada mereka di saat golden age mereka. Tidak cukup nutrisi, tidak cukup pendidikan. Tapi ini satu-satunya solusi yang bisa saya pikirkan buat memintarkan generasi berikutnya. Generasi hari ini udah kadung, Sis…