Kabayan…

Standard

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah ngobrol dengan orang pinter. Ngobrol dengan orang pinter — nggak harus ngobrol langsung lah, lewat facebook status aja misalnya, bisa menginspirasi saya. Dari inspirasi… tada… blog post!

Pernah denger tentang Kabayan? Kalo kamu seumuran sama saya, pasti kamu inget tokoh Kabayan dari buku pelajaran SD, atau dari film layar lebar si Kabayan yang diperankan oleh almarhum Didi Petet. Saya sendiri mengenal Kabayan lebih dekat karena papa saya yang asalnya dari Tasikmalaya, sangat suka dengan karaktern ini. Ya… Kabayan memang quintessentially Sunda. *mati gue, quintessential itu Bahasa Indonesianya apa ya?*

Karakter Kabayan ini digambarkan sebagai seorang yang berasal dari kampung, biasanya pengangguran proletar, juga tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Tapi, si Kabayan ini selain setengah mati jatuh cinta pada Nyi Iteung, anak gadis si Abah dan Ambu, juga terkenal baik hati dan cerdik luar biasa. Biasanya cerita berkisar mengenai Kabayan yang terlibat masalah karena Abah tidak menyetujui hubungannya dengan Nyi Iteung, tapi berhasil mengelabuhi Abah yang terkenal sebagai tokoh berpendidikan di kampungnya…

Ngerti kan?

Mau dibawa ke mana pembicaraan ini? Well… Ceritanya beberapa menit yang lalu saya membaca, mengomentari, dan akhirnya terlibat diskusi singkat dengan… um… si Gigit (sebut aja begitu, karena dia hobi membuat status facebook yang mengigit… oke? Terima aja). Nah, dari obrolan itu, saya dan si Gigit punya teori yang berbeda tentang orang bodoh, dan orang yang tidak berpendidikan.

Menurut saya, ada perbedaan yang mendasar antara orang bodoh, dan orang yang tidak berpendidikan. Meskipun keduanya sama-sama tidak diuntungkan keadaan, kita bisa mendidik orang yang tidak berpendidikan menjadi orang terdidik, tapi kita tidak bisa memintarkan orang yang pada dasarnya bodoh. Saya selalu menganalogikan otak manusia seperti prosesor komputer.

Orang bodoh adalah orang dengan kapasitas otak Intel Celeron… bagi yang masih muda dan imut, dan belom pernah denger Intel Celeron, itu adalah prosesor sebelum Intel Pentium, dan Intel Pentium adalah prosesor sebelum Intel Core. Sedangkan orang tidak berpendidikan itu adalah orang dengan HD yang masih kosong, karena belom download software apa-apa. Orang tidak berpendidikan bisa dididik, sama seperti kita bisa mengisi HD yang kosong… tapi kalo prosesornya ble’e, ya percuma softwarenya tidak bisa dipakai — seperti orang bodoh, bisa dikasih tahu tapi belom tentu mereka ngerti bagaimana menggunakan pengetahuan itu.

Bagaimana kamu tau itu orang pintar atau bodoh? Atau apakah dia berpendidikan atau tidak?

Seperti biasa saya punya pendapat yang tidak terlalu populer, tapi berhubung saya ngomong di blog saya sendiri, jadi tidak ada yang menyensor. Ahaay…

Menurut saya, tidak ada alat ukur pintar-bodoh, cantik/bagus-jelek, sehat-sakit, gendut-kurus, dan lain sebagainya yang mutlak dan sempurna. Tapi, ada alat ukur, dan secara definisi, yang namanya alat ukur itu harus bisa distandardisasi, dan standardisasi paling oke adalah yang bisa dikuantifikasi — artinya bisa ditunjukkan dengan angka… Misalnya, buat standar bagus/cantik-jelek kita punya golden ratio Fibonacci (kalo bingung, google! jangan males…). Kalau mau standar gendut-kurus kita pake standar BMI. Pintar bodoh pun bisa diukur dengan test IQ.

Yaa yaa yaa… IQ bukan segalanya, ada EQ ada SQ whatever… Saya ga peduli dengan yang dua terakhir itu. Tidak ada standardisasi EQ atau SQ, dan tanpa standar ukur, saya akan selalu ragukan objektivitas pengukurnya.

Balik ke si Kabayan ya? Saya yakin kalau Kabayan bisa dites IQ, dia bisa jadi punya IQ di atas rata-rata. Banyak kok orang dengan IQ tinggi tapi tidak sekolah. Banyak juga orang dengan IQ rendah lulus dengan nilai bagus di sekolah — kerja keras itu ngepek, Bro. Tapi maksudnya apa saya ngomong panjang lebar tentang ini, dan hubungannya dengan pembicaraan saya dengan si Gigit?

Jadi gini, Git… Kalo orang itu bodo, ya udah kamu nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ini menjawab pertanyaan: Kok bisa sih lulusan universitas negeri terkenal di Indonesia percaya sama teori bumi datar? Atau, kok bisa sih lulusan luar negeri macam si Blabla masih kolot, dan rasis macam begitu? Karena kita bisa mendidik orang bodoh, tapi kita tidak bisa membuat orang bodoh menjadi pintar… Ini masalah kapasitas otak, dan sayangnya sampai saat ini ga banyak cara untuk mengupgrade otak setelah lewat golden age. Buat orang-orang yang udah terlanjur tua dan bego, kamu bener… kita cuma bisa kasian karena buat mereka sudah terlambat…

Dan kamu juga bener, ini juga efek over populasi. Semakin banyak anak, semakin sedikit perhatian yang bisa diberikan kepada mereka di saat golden age mereka. Tidak cukup nutrisi, tidak cukup pendidikan. Tapi ini satu-satunya solusi yang bisa saya pikirkan buat memintarkan generasi berikutnya. Generasi hari ini udah kadung, Sis…

 

Advertisements

6 responses »

  1. Kebetulan, nama panggilan di rumah Gigit. 😀
    Pertanyaan lanjutannya, apa orang-orang bodoh ini terlahir bodoh? Tapi harus diakui, sih, sekolah sampai ke luar negeri juga gak bisa bikin ‘bodoh’ beberapa orang hilang.
    Tapi, iya, buat beberapa orang, udah kadung bodohnya dan ga bisa ditolong lagi.

    Liked by 1 person

    • Menurut hasil riset, rata2 IQ orang indonesia adalah 70, itu udah borderline untuk mental retardation. Bayangkan… untuk satu orang pinter kaya kamu, ada beberapa puluh orang dengan IQ di bawah 70. Aku sih ga kaget kalo orang-orang bodoh itu memang bodoh, dan ga heran kalo itu juga kenapa mereka gampang diadu domba dan diprovokasi… dan iya… kita cuma bisa kasian aja…

      Like

      • Kayanya baca di sini juga soal itu. Tapi, riset terbaru membuktikan kalau kecerdasan itu dinamik, dan tes IQ bisa dimanipulasi.
        Harus diakui, kalau kecerdasan bangsa kita memprihatinkan, percuma punya hari pendidikan nasional.

        Liked by 1 person

      • Kan kubilang juga tes IQ itu ga perfect, dan menurut banyak orang udah kuno banget tekniknya. Tapi sampe hari ini aku belum lihat ada teknik lain/alat ukur lain yang bisa dikuantifikasi, dan lebih objektif daripada tes IQ yang ada sekarang.
        Riset terbaru? Boleh juga tuh, nanti coba kuliat risetnya…
        Oh hari pendidikan ya… sampe lupa 😀 selamat hari pendidikan nasional yaa 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s