Monthly Archives: August 2017

Pulang?

Standard

Status facebook teman-teman saya sering kali mendatangkan inspirasi buat menulis. Bukan cuma statusnya, tapi juga komentar-komentar orang lain — orang-orang yang tidak saya kenal, terhadap status tersebut.

Hari ini, misalnya.

Salah seorang teman saya yang bersekolah di luar negeri (luar Indonesia, maksudnya), mengunggah foto itinerary penerbangan dari tempatnya bersekolah, ke Indonesia. Pulang, sepertinya, setelah menyelesaikan pendidikan selama beberapa tahun di sana. Saya tidak tahu pasti apa yang dia bicarakan di statusnya, karena tidak ditulis dengan bahasa yang saya mengerti… tapi sebuah emot kecil yang mengikuti statusnya bicara banyak.

Komentar yang mengikutinya beragam, tentu saja. Grup teman-teman yang ditinggalkan, dan grup teman-teman yang menyambut pulang. Pulang…

Sulit rasanya menyebut kata “pulang”, kalau tempat yang dituju tidak terasa seperti rumah. Saya tahu, dan bukannya sok sok tahu, bahwa banyak pelajar Indonesia, terutama mereka yang kuning sipit seperti saya malas pulang ke Indonesia. Bukan karena kami tidak nasionalis, tapi karena kami tidak merasa di Indonesia kami masih dianaktirikan.

Kasus Ahok beberapa bulan lalu contoh jelasnya.

Karena kasus Ahok kemarin, makin banyak orang Indonesia, pelajar maupun bukan, makin malas kembali ke Indonesia. Percuma rasanya mengorbankan kehidupan yang aman, mapan, dan bebas diskriminasi di luar negeri, untuk membangun tanah air tumpah darah… kalau pada akhirnya dikriminalisasi seperti Ahok.

Memang benar, jadi minoritas itu tidak enak. Di mana-mana juga sama tidak enak jadi minoritas. Selalu saja ada grup orang-orang rasis bodoh, yang tidak paham konsep kebhinekaan. TAPI, setidaknya di negara lain, di sini misalnya, HUKUM selalu ada untuk melindungi kalau kami dibully oleh orang-orang semacam ini.

Di Indonesia? Hukum tidak pernah memihak yang benar. Kalau tidak memihak yang kuat dan berkuasa — kasus Antasari Azhar, Munir dll, ya memihak yang banyak dan populer — kasus anaknya Ahmad Dhani, FPI, Riziq Shihab dll.

Banyak orang Indonesia tidak mengerti, bahwa nasionalisme saja tidak cukup untuk hidup. Realistis saja, tidak ada manusia yang mau mati konyol kalau ada kesempatan buat membangun kehidupan yang lebih baik — membangun kehidupan, di tempat yang bisa disebut “rumah”.

Saya merasa turut berduka teman saya harus kembali ke Indonesia, dan bukan hanya untuk berkunjung seperti kalau pas saya pulang kampung. Saya kenal belasan anak Indonesia, kebanyakan perempuan, yang merasa terjebak di Indonesia. Kenapa perempuan?

Ha, saya punya teori. Perempuan. Minoritas. Indonesia yang semakin lama semakin gila agama. Jelas saja banyak perempuan minoritas pengen kabur dari sana. Saya hanya bisa berharap mereka bisa menemukan jalan keluar (yang legal) dari Indonesia.

 

Advertisements

Hari Ini Saya Menulis

Standard

Waktu saya SMA, saya punya seorang guru Bahasa Indonesia bernama Pak Rudy. Beliau ini wali kelas saya waktu saya kelas satu. Berhubung saya waktu itu adalah salah satu pengurus kelas, saya sering berkontak dengan Pak Rudy di luar jam pelajaran di kelas.

Dari kontak itu, Pak Rudy rupanya tahu bahwa saya suka membaca. Saya tidak ingat dari mana awal mulanya, tapi saya ingat Pak Rudy meminjami saya buku novel miliknya pribadi. Bukan buku perpustakaan yang biasanya saya pinjam.

Saya masih ingat judulnya dengan jelas — tentu saja karena itu momen spesial buat saya. Bekisar Merah.

Setiap kali saya melihat buku itu di rak di Gramedia, saya selalu ingat Pak Rudy. Guru Bahasa Indonesia saya yang paling spesial.

Bagi saya jasa terbesar Pak Rudy bagi saya adalah memperkenalkan saya pada dunia menulis. Kalau bukan karena Pak Rudy, mungkin tidak akan pernah ada blog bernama Superbyq. Tidak pernah ada cerita tentang Princess Cinnamon dan Coco. Saya mungkin tidak pernah mengenal betapa menyenangkannya menuangkan isi kepala dalam tulisan.

Suatu hari Pak Rudy mengumumkan bahwa ada tugas besar untuk dikumpulkan sebelum tes akhir tahun. Tugasnya sederhana, yaitu kami diminta menulis cerita fiksi. Syaratnya sederhana: minimal memiliki jumlah kata sebanyak yang dibutuhkan untuk membuat cerpen. Tidak ada maksimal.

Dan saya mulai menulis. Kata, diikuti kalimat. Kalimat diikuti paragraf. Beberapa minggu kemudian saya punya novel kecil. Ceritanya sederhana, khas cerita remaja — tentang anak remaja perempuan yang ditinggal mati pacarnya.

Yang Pak Rudy mungkin tidak tahu adalah bahwa sejak hari itu saya tidak pernah berhenti menulis. Saya menulis setiap hari, meskipun hanya satu kata. Waktu kelas tiga SMA saya menulis tiga buku kecil untuk dibaca teman-teman sekelas saya. Blog ini punya Princess Cinnamon dan Coco, dan….

Yang Pak Rudy tidak pernah tahu adalah mimpi saya.

Bahwa saya ingin menulis buku yang akan saya dedikasikan untuk beliau. Karena beliau yang mengajari saya menulis untuk pertama kali. Dan menunjukkan pada saya bahwa dengan kata saya bisa menciptakan dunia saya sendiri.

Sayangnya Pak Rudy tidak pernah akan tahu ini.

Hari ini saya mendapatkan kabar bahwa Pak Rudy meninggal dunia pada umur 46 tahun.

Pak Rudy tidak akan pernah tahu bahwa dia telah mengubah hidup seseorang. Pak Rudy tidak akan pernah melihat namanya ditulis di halaman dedikasi — seperti yang saya rencanakan kalau pada akhirnya saya menulis sebuah novel… Pak Rudy tidak akan pernah mendengar terima kasih saya secara langsung — dan ini adalah satu hal yang paling saya sesalkan.

Hari ini saya menulis untuk Pak Rudy. Untuk mengenang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, yang mengubah hidup saya dengan sebuah tugas kecil darinya. Saya rasa tidak ada cara lain yang pantas untuk mengenang Pak Rudy, bagi saya, selain dengan tetap menulis…

Selamat jalan Pak Rudy.