Hari Ini Saya Menulis

Standard

Waktu saya SMA, saya punya seorang guru Bahasa Indonesia bernama Pak Rudy. Beliau ini wali kelas saya waktu saya kelas satu. Berhubung saya waktu itu adalah salah satu pengurus kelas, saya sering berkontak dengan Pak Rudy di luar jam pelajaran di kelas.

Dari kontak itu, Pak Rudy rupanya tahu bahwa saya suka membaca. Saya tidak ingat dari mana awal mulanya, tapi saya ingat Pak Rudy meminjami saya buku novel miliknya pribadi. Bukan buku perpustakaan yang biasanya saya pinjam.

Saya masih ingat judulnya dengan jelas — tentu saja karena itu momen spesial buat saya. Bekisar Merah.

Setiap kali saya melihat buku itu di rak di Gramedia, saya selalu ingat Pak Rudy. Guru Bahasa Indonesia saya yang paling spesial.

Bagi saya jasa terbesar Pak Rudy bagi saya adalah memperkenalkan saya pada dunia menulis. Kalau bukan karena Pak Rudy, mungkin tidak akan pernah ada blog bernama Superbyq. Tidak pernah ada cerita tentang Princess Cinnamon dan Coco. Saya mungkin tidak pernah mengenal betapa menyenangkannya menuangkan isi kepala dalam tulisan.

Suatu hari Pak Rudy mengumumkan bahwa ada tugas besar untuk dikumpulkan sebelum tes akhir tahun. Tugasnya sederhana, yaitu kami diminta menulis cerita fiksi. Syaratnya sederhana: minimal memiliki jumlah kata sebanyak yang dibutuhkan untuk membuat cerpen. Tidak ada maksimal.

Dan saya mulai menulis. Kata, diikuti kalimat. Kalimat diikuti paragraf. Beberapa minggu kemudian saya punya novel kecil. Ceritanya sederhana, khas cerita remaja — tentang anak remaja perempuan yang ditinggal mati pacarnya.

Yang Pak Rudy mungkin tidak tahu adalah bahwa sejak hari itu saya tidak pernah berhenti menulis. Saya menulis setiap hari, meskipun hanya satu kata. Waktu kelas tiga SMA saya menulis tiga buku kecil untuk dibaca teman-teman sekelas saya. Blog ini punya Princess Cinnamon dan Coco, dan….

Yang Pak Rudy tidak pernah tahu adalah mimpi saya.

Bahwa saya ingin menulis buku yang akan saya dedikasikan untuk beliau. Karena beliau yang mengajari saya menulis untuk pertama kali. Dan menunjukkan pada saya bahwa dengan kata saya bisa menciptakan dunia saya sendiri.

Sayangnya Pak Rudy tidak pernah akan tahu ini.

Hari ini saya mendapatkan kabar bahwa Pak Rudy meninggal dunia pada umur 46 tahun.

Pak Rudy tidak akan pernah tahu bahwa dia telah mengubah hidup seseorang. Pak Rudy tidak akan pernah melihat namanya ditulis di halaman dedikasi — seperti yang saya rencanakan kalau pada akhirnya saya menulis sebuah novel… Pak Rudy tidak akan pernah mendengar terima kasih saya secara langsung — dan ini adalah satu hal yang paling saya sesalkan.

Hari ini saya menulis untuk Pak Rudy. Untuk mengenang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, yang mengubah hidup saya dengan sebuah tugas kecil darinya. Saya rasa tidak ada cara lain yang pantas untuk mengenang Pak Rudy, bagi saya, selain dengan tetap menulis…

Selamat jalan Pak Rudy.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s