Author Archives: Bybyq

Hari Ini Saya Menulis

Standard

Waktu saya SMA, saya punya seorang guru Bahasa Indonesia bernama Pak Rudy. Beliau ini wali kelas saya waktu saya kelas satu. Berhubung saya waktu itu adalah salah satu pengurus kelas, saya sering berkontak dengan Pak Rudy di luar jam pelajaran di kelas.

Dari kontak itu, Pak Rudy rupanya tahu bahwa saya suka membaca. Saya tidak ingat dari mana awal mulanya, tapi saya ingat Pak Rudy meminjami saya buku novel miliknya pribadi. Bukan buku perpustakaan yang biasanya saya pinjam.

Saya masih ingat judulnya dengan jelas — tentu saja karena itu momen spesial buat saya. Bekisar Merah.

Setiap kali saya melihat buku itu di rak di Gramedia, saya selalu ingat Pak Rudy. Guru Bahasa Indonesia saya yang paling spesial.

Bagi saya jasa terbesar Pak Rudy bagi saya adalah memperkenalkan saya pada dunia menulis. Kalau bukan karena Pak Rudy, mungkin tidak akan pernah ada blog bernama Superbyq. Tidak pernah ada cerita tentang Princess Cinnamon dan Coco. Saya mungkin tidak pernah mengenal betapa menyenangkannya menuangkan isi kepala dalam tulisan.

Suatu hari Pak Rudy mengumumkan bahwa ada tugas besar untuk dikumpulkan sebelum tes akhir tahun. Tugasnya sederhana, yaitu kami diminta menulis cerita fiksi. Syaratnya sederhana: minimal memiliki jumlah kata sebanyak yang dibutuhkan untuk membuat cerpen. Tidak ada maksimal.

Dan saya mulai menulis. Kata, diikuti kalimat. Kalimat diikuti paragraf. Beberapa minggu kemudian saya punya novel kecil. Ceritanya sederhana, khas cerita remaja — tentang anak remaja perempuan yang ditinggal mati pacarnya.

Yang Pak Rudy mungkin tidak tahu adalah bahwa sejak hari itu saya tidak pernah berhenti menulis. Saya menulis setiap hari, meskipun hanya satu kata. Waktu kelas tiga SMA saya menulis tiga buku kecil untuk dibaca teman-teman sekelas saya. Blog ini punya Princess Cinnamon dan Coco, dan….

Yang Pak Rudy tidak pernah tahu adalah mimpi saya.

Bahwa saya ingin menulis buku yang akan saya dedikasikan untuk beliau. Karena beliau yang mengajari saya menulis untuk pertama kali. Dan menunjukkan pada saya bahwa dengan kata saya bisa menciptakan dunia saya sendiri.

Sayangnya Pak Rudy tidak pernah akan tahu ini.

Hari ini saya mendapatkan kabar bahwa Pak Rudy meninggal dunia pada umur 46 tahun.

Pak Rudy tidak akan pernah tahu bahwa dia telah mengubah hidup seseorang. Pak Rudy tidak akan pernah melihat namanya ditulis di halaman dedikasi — seperti yang saya rencanakan kalau pada akhirnya saya menulis sebuah novel… Pak Rudy tidak akan pernah mendengar terima kasih saya secara langsung — dan ini adalah satu hal yang paling saya sesalkan.

Hari ini saya menulis untuk Pak Rudy. Untuk mengenang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, yang mengubah hidup saya dengan sebuah tugas kecil darinya. Saya rasa tidak ada cara lain yang pantas untuk mengenang Pak Rudy, bagi saya, selain dengan tetap menulis…

Selamat jalan Pak Rudy.

 

Mendadak Juli

Standard

Cepatnya tahun ini berjalan, tiba-tiba saja sekarang kita sudah berada di bulan Juli. Sayangnya saya belum mencapai apa-apa sampai pertengahan tahun ini, jadi malu mau bikin mid-year assessment.

Hal yang paling sulit menurut saya adalah ngepost dalam bahasa Indonesia. Rasanya, seperti kembali ke jaman lima tahun yang lalu waktu saya mulai ngepost di Superbyq dalam bahasa Inggris. Kagok.

Bukannya saya sok, ya… tapi bayangin deh… Setelah lima tahun posting dalam bahasa Inggris, tinggal di negara berbahasa Inggris, dan dikelilingi oleh orang yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya tidak berkontak dengan Persatuan Pelajar Indonesia di sini, juga tidak terlalu sering telepon ke rumah — jadi sehari-hari saya hanya berbahasa Inggris, di rumah maupun di luar rumah. Nonton televisi, siarannya berbasa Inggris juga, begitu pula kalau pas mendengarkan siaran radio.

Jadi mohon harap maklum…

Saya sendiri juga heran kenapa kemampuan berbahasa saya rasanya menurun, karena waktu saya berangkat ke sini untuk pertama kalinya, saya yakin banget kalau bahasa ibu itu bakalan nempel terus meskipun jarang dipakai. Lagipula, bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman di Solo, dan menetap di Jakarta selama itu juga tidak membuat saya tiba-tiba berlogat Jakarta. Apa yang beda?

Mungkin umur juga pengaruh kali ya? Waktu masih muda dulu adaptasi lebih mudah, otak juga masih segar, jadi lompat dari satu bahasa ke bahasa lain rasanya gampang.

Eniwei…

Udah bulan Juli, mau ngapain nih kita? Sepertinya saya harus mulai mencari aktivitas yang lebih produktif. Simbok saya sudah menawari saya buat sekolah lagi…. Meskipun terdengar jual mahal waktu ngobrol sama belio, di sini saya sebenernya jingkrak-jingkrak kesenengan. Ditawari sekolah lagi, Bow!

Kayanya Simbokku gatel kalo liat saya nganggur begini. Mungkin setengah kasihan juga karena dikira saya bosen kalo nggak ada kerjaan, padahal di sini selalu ada printilan buat dikerjakan Contohnya ya… lima menit lagi saya musti berangkat belanja keperluan rumah tangga…

Tschuss!

Sisters

Standard

Sejak beberapa hari yang lalu, semua media memberitakan kebakaran yang terjadi di London. Kebakaran ini merupakan salah satu yang terbesar di Inggris sejak beberapa tahun, dan mungkin juga merupakan salah satu yang memakan paling banyak korban meninggal.

Tidak heran, apartment tersebut memiliki 24 lantai, 20 di antaranya adalah untuk tempat tinggal. Diperkirakan ada sekitar 500 penghuni di sana, atau setidaknya yang tercatat.

Seiring dengan dipadamkannya api, berita yang muncul di televisi pun beralih dari berita usaha penyelamatan dan pemadaman, ke berita mengenai orang-orang yang terkena imbas dari kebakaran ini. Cerita mengenai seorang ibu tang melempar bayinya keluar melalu jendela, agar sang bayi diselamatkan — bayi tersebut dikabarkan selamat, atau cerita mengenai kakek-kakek yang tidak bisa menyelamatkan diri karena dia tidak bisa menggunakan tangga darurat.

Tapi satu cerita yang buat saya agak personal adalah mengenai tiga kakak beradik yang terpencar saat berusaha menyelamatan diri dari kobaran api. Salah seorang dari mereka tertinggal di dalam apartment, dan cuma bisa berkontak dengan kakak-kakaknya melalu HP sampai akhirnya hubungan pembicaraan terputus, dan si adik dikabarkan tewas.

Si kakak bercerita kepada media bahwa saat ditelepon, si adik yang tertinggal di apartment berkata, “kok kamu ninggalin aku?”

Saya tidak bisa menjelaskan kenapa, tapi saat itu juga saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh si kakak. Saya punya tiga orang adik, Cuy, Dan, ada satu masa di mana, saya dan dua adik perempuan saya berbagi apartment di Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan kalau saya ada di posisi si kakak itu.

Apakah saya akan melakukan hal yang sama — mendengarkan detik-detik terakhir si adik melalui telepon? Atau kembali masuk, dan lari ke lantai berapa belas, sedangkan si kakak sendiri sudah bengek karena menghirup terlalu banya asap?

Saya bukan termasuk orang yang sensitif, dan saya jarang merasa kasihan kepada orang lain. Tapi tiga kakak beradik ini… Man… kalau bukan karena berita di TV sudah beralih lagi ke cerita yang lain, mungkin saya sudah mbrebes mili…

Indonistan Pt.2

Standard

BBC dan Guardian ikutan memberitakan Ahok divonis bersalah karena penistaan agama. Iya, saya tahunya dari situ, karena saya malas ngikutin berita online di Indonesia. Berita online di Indonesia masih belum selevel dengan berita TV atau koran, baik dari sisi cek dan ricek, bias, dan juga tata cara penulisan. Mungkin karena mereka maunya cepat, dan jadi yang pertama memberitakan sesuatu, lalu lupa bahwa “cepat” bukan satu-satunya tolok ukur reportase yang baik… “akurat” juga.

Eeeeniwei… saya bukan anak jurnalistik, cuma ikut kelas dasar-dasar jurnalistik satu semester saja. Jadi, biarlah anak (dan lulusan) studi jurnalistik yang mengomentari dunia jurnalisme online di Indonesia.

Kembali ke Ahok saja ya…

Setelah beberapa bulan persidangan, dengan berbagai macam kontroversi saat prosesnya, akhirnya calon mantan gubernur DKI Jakarta itu divonis bersalah juga. Meskipun saksi-saksi yang diajukan ternyata banyak yang bodong, meskipun ada bukti yang ternyata video editan… si Cina Kafir itu divonis bersalah juga.

Saya rasa memang sudah saatnya. Bukan saya menunggu-nunggu Ahok kena batunya, tapi saya tahu bahwa Indonesia belum siap dengan kebebasan berpendapat dan berbicara di ruang publik. Bukan saya merasa Ahok bersalah, tapi saya tahu bahwa negara ini memang tidak adil pada golongan minoritas. Saya tidak perlu menyebutkan contoh, karena semua orang bisa lihat sendiri — bukan cuma kalian yang di Indonesia, orang-orang di sini juga bisa lihat kok. Buktinya sampai diberitakan di BBC dan Guardian.

Kecewa? Hm… iya, sedikit. Kaget? Tidak sama sekali. Ingat Jessica? Atau Antasari Azhar?¬†Sama seperti kedua kasus tersebut, bukti-bukti lemah, saksi-saksi tidak kredibel… tetap saja vonis bersalah. Dan seperti yang saya bilang waktu yang lalu — kalau ini bisa terjadi pada Jessica dan Antasari Azhar — dan sekarang Ahok, ini bisa terjadi pada siapa saja.

Sebenarnya saya malas ikut-ikutan komen… Tapi ini bulan Mei, dan biasanya di bulan Mei saya lebih sensi dari biasanya.

whatever…

Tiba-tiba nyesel revert back ke Bahasa Indonesia. I don’t feel like I want to be an Indonesian right now…

Kabayan…

Standard

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah ngobrol dengan orang pinter. Ngobrol dengan orang pinter — nggak harus ngobrol langsung lah, lewat facebook status aja misalnya, bisa menginspirasi saya. Dari inspirasi… tada… blog post!

Pernah denger tentang Kabayan? Kalo kamu seumuran sama saya, pasti kamu inget tokoh Kabayan dari buku pelajaran SD, atau dari film layar lebar si Kabayan yang diperankan oleh almarhum Didi Petet. Saya sendiri mengenal Kabayan lebih dekat karena papa saya yang asalnya dari Tasikmalaya, sangat suka dengan karaktern ini. Ya… Kabayan memang quintessentially Sunda. *mati gue, quintessential itu Bahasa Indonesianya apa ya?*

Karakter Kabayan ini digambarkan sebagai seorang yang berasal dari kampung, biasanya pengangguran proletar, juga tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Tapi, si Kabayan ini selain setengah mati jatuh cinta pada Nyi Iteung, anak gadis si Abah dan Ambu, juga terkenal baik hati dan cerdik luar biasa. Biasanya cerita berkisar mengenai Kabayan yang terlibat masalah karena Abah tidak menyetujui hubungannya dengan Nyi Iteung, tapi berhasil mengelabuhi Abah yang terkenal sebagai tokoh berpendidikan di kampungnya…

Ngerti kan?

Mau dibawa ke mana pembicaraan ini? Well… Ceritanya beberapa menit yang lalu saya membaca, mengomentari, dan akhirnya terlibat diskusi singkat dengan… um… si Gigit (sebut aja begitu, karena dia hobi membuat status facebook yang mengigit… oke? Terima aja). Nah, dari obrolan itu, saya dan si Gigit punya teori yang berbeda tentang orang bodoh, dan orang yang tidak berpendidikan.

Menurut saya, ada perbedaan yang mendasar antara orang bodoh, dan orang yang tidak berpendidikan. Meskipun keduanya sama-sama tidak diuntungkan keadaan, kita bisa mendidik orang yang tidak berpendidikan menjadi orang terdidik, tapi kita tidak bisa memintarkan orang yang pada dasarnya bodoh. Saya selalu menganalogikan otak manusia seperti prosesor komputer.

Orang bodoh adalah orang dengan kapasitas otak Intel Celeron… bagi yang masih muda dan imut, dan belom pernah denger Intel Celeron, itu adalah prosesor sebelum Intel Pentium, dan Intel Pentium adalah prosesor sebelum Intel Core. Sedangkan orang tidak berpendidikan itu adalah orang dengan HD yang masih kosong, karena belom download software apa-apa. Orang tidak berpendidikan bisa dididik, sama seperti kita bisa mengisi HD yang kosong… tapi kalo prosesornya ble’e, ya percuma softwarenya tidak bisa dipakai — seperti orang bodoh, bisa dikasih tahu tapi belom tentu mereka ngerti bagaimana menggunakan pengetahuan itu.

Bagaimana kamu tau itu orang pintar atau bodoh? Atau apakah dia berpendidikan atau tidak?

Seperti biasa saya punya pendapat yang tidak terlalu populer, tapi berhubung saya ngomong di blog saya sendiri, jadi tidak ada yang menyensor. Ahaay…

Menurut saya, tidak ada alat ukur pintar-bodoh, cantik/bagus-jelek, sehat-sakit, gendut-kurus, dan lain sebagainya yang mutlak dan sempurna. Tapi, ada alat ukur, dan secara definisi, yang namanya alat ukur itu harus bisa distandardisasi, dan standardisasi paling oke adalah yang bisa dikuantifikasi — artinya bisa ditunjukkan dengan angka… Misalnya, buat standar bagus/cantik-jelek kita punya golden ratio Fibonacci (kalo bingung, google! jangan males…). Kalau mau standar gendut-kurus kita pake standar BMI. Pintar bodoh pun bisa diukur dengan test IQ.

Yaa yaa yaa… IQ bukan segalanya, ada EQ ada SQ whatever… Saya ga peduli dengan yang dua terakhir itu. Tidak ada standardisasi EQ atau SQ, dan tanpa standar ukur, saya akan selalu ragukan objektivitas pengukurnya.

Balik ke si Kabayan ya? Saya yakin kalau Kabayan bisa dites IQ, dia bisa jadi punya IQ di atas rata-rata. Banyak kok orang dengan IQ tinggi tapi tidak sekolah. Banyak juga orang dengan IQ rendah lulus dengan nilai bagus di sekolah — kerja keras itu ngepek, Bro. Tapi maksudnya apa saya ngomong panjang lebar tentang ini, dan hubungannya dengan pembicaraan saya dengan si Gigit?

Jadi gini, Git… Kalo orang itu bodo, ya udah kamu nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ini menjawab pertanyaan: Kok bisa sih lulusan universitas negeri terkenal di Indonesia percaya sama teori bumi datar? Atau, kok bisa sih lulusan luar negeri macam si Blabla masih kolot, dan rasis macam begitu? Karena kita bisa mendidik orang bodoh, tapi kita tidak bisa membuat orang bodoh menjadi pintar… Ini masalah kapasitas otak, dan sayangnya sampai saat ini ga banyak cara untuk mengupgrade otak setelah lewat golden age. Buat orang-orang yang udah terlanjur tua dan bego, kamu bener… kita cuma bisa kasian karena buat mereka sudah terlambat…

Dan kamu juga bener, ini juga efek over populasi. Semakin banyak anak, semakin sedikit perhatian yang bisa diberikan kepada mereka di saat golden age mereka. Tidak cukup nutrisi, tidak cukup pendidikan. Tapi ini satu-satunya solusi yang bisa saya pikirkan buat memintarkan generasi berikutnya. Generasi hari ini udah kadung, Sis…

 

Gojag Gajeg

Standard

Bulan Mei datang sebentar lagi… dan setelah menimbang-nimbang selama beberapa jam, saya memutuskan untuk mengembalikan blog ini ke Bahasa Indonesia. Apa hubungannya antara bulan Mei yang akan datang sebentar lagi dan keputusan saya untuk mengembalikan blog ini ke Bahasa Indonesia?

Tidak ada.

Sebenarnya saya agak gojag-gajeg juga mau kembali menggunakan bahasa Indonesia di Superbyq. Sudah lima tahun lebih berbahasa Inggris di sini, rasanya agak wagu. Tapi, saya rasa memang ini sudah saatnya Superbyq kembali menjadi blog berbahasa Indonesia…

Dulu awalnya saya ingin menggunakan Superbyq untuk membantu saya mengasah kemampuan saya menulis dalam Bahasa Inggris. Saya ingin mengembangkan kosa kata saya, supaya thesis saya tidak terlihat seperti tulisan anak baru lulus SD. Dan, saya rasa tujuan tersebut sudah tercapai, dan mungkin sudah saatnya saya membuat tujuan baru untuk Superbyq.

Mungkin kali ini, untuk mengasah kemampuan saya berbahasa Indonesia lagi?

Bukan hal yang aneh, lho.

Saya rasa saya tidak sendirian dalam hal ini. Saya mendengar beberapa kasus di mana seseorang yang lama meninggalkan kampung halamannya, dan tidak menggunakan bahasa ibunya, mulai sedikit demi sedikit kehilangan kosa kata. Mungkin tidak sepenuhnya lupa, karena tidak demikian cara kerja otak.

Tapi ada saat di mana saya lupa bahwa sweet potato itu adalah ubi.

Nggak lucu.

Tahu bahwa sweet potato adalah ubi adalah satu hal, tapi beneran lupa saat mau menggunakannya dalam percakapan itu seperti sebuah peringatan bahwa saya mungkin suatu hari nanti akan merasa asing menggunakan bahasa ibu saya sendiri.

Setiap kali saya pulang kampung, di Solo saya jarang berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebanyakan bahasa Indonesia saya tercampur dengan bahasa Jawa, atau bahkan Sunda. Saya sudah jarang mampir di Jakarta. Ditambah lagi, saya tidak ada partner berbicara bahasa Indonesia di sini, di Norwich. Hampir tidak ada alasan bagi saya untuk menggunakan bahasa Indonesia sama sekali.

Mungkin saya paranoid.

Tapi saya takut suatu hari nanti saya akan kesulitan untuk menulis blog dalam bahasa Indonesia.

Sekarang saja, misalnya… entah sudah berapa kali saya menekan tombol backspace karena kalimat saya terlihat/terdengar/terbaca aneh. Sudah berapa kali saya mengedit entry hari ini, hanya untuk membuat postingan ini tidak terlalu wagu untuk dibaca.

Jadi… begitulah ceritanya kenapa saya mengembalikan blog ini ke bahasa Indonesia. Saya masih belum tahu apakah saya akan seterusnya menulis dengan gaya seperti ini — jujur saja rasanya kagok. Atau, apakah saya akan kembali ke jaman saya ngeblog di blogspot — yang kalau saya baca sekarang kok rasanya agak kurang cocok sama umur.

Sudah dulu hari ini… Sampai nanti ūüėÄ

Indonistan

Standard

Even though it is not a direct cause, the governor election in Jakarta which has happened last week has something to do with the re-activation of this blog. Once the result of the vote was out, it is difficult not to have any opinion about it.

You’re not a residence of DKI Jakarta, Byq. What does it do to you?

You know what? Even if it does not affect me directly, you have to remember that I spent years of my university years in Jakarta. I have friends, family members, and relatives working, and living in Jakarta, and it definitely affects them and their lives. So, even if it doesn’t affect me directly, this voting result does affect people that I know.

But it does.

It does affect me directly. It does affect me in a personal level as so many attacks were thrown to people of minority groups like myself. It is not only about the defeat of a governor candidate, it is the defeat of progress.

Months ago you thought that Indonesia (or at least Jakarta) has changed a bit. You kind of hoped that finally you can start living in a country where people are no longer politically driven by their religious fanaticism. You kind of hope that for once, in the capital city — where you really put your hope of progression of mankind on — you could see how faith in humanity could be restored.

But of course, you shouldn’t be surprised, should you?

This has happened all around the world, why wouldn’t it happen in Indonesia too? The rise of the far right radicals — which in Indonesia is represented by PKS and FPI (and any organisation similar to them).

Some friends has been joking about the day when Indonesia one day would be transformed into Indonistan. A place where the government will no longer be free of religious intervention, a place where the leaders are more afraid of being called infidels than being fair and just. A place where minority groups will once more being oppressed, and bullied. That joke though… is no longer funny.

It reviving the refugee nightmare in me. It reminds me the day when my parents were about to send me out of the country to save myself from people who will harm us — just because we are minorities. It is basically a reminder that until today, or maybe forever, I would never be welcomed completely in Indonistan Indonesia.

Some people are still trying to console themselves by saying that this is not the end of the world — that Ahok might still have a place somewhere in Indonesia’s politics. Well… maybe. But really? I think it’s just anticlimactic. The country¬†had the chance to bring the country¬†into an overdrive with him… But… of course…

I am not in Jakarta right now. Heck, I am not even in Indonesia right now, and I am super glad that I am not. I am not feeling any patriotic right now, but why should I be? How could I be? I am sorry for those who are now stuck in Indonistan, and just don’t know how to get away from this sticky situation. I am just hoping that I would never have to come back… at least not while the country is still screwed like this…

Another Year on Superbyq

Standard

I think it is just about time for me to make a little come back. I have to admit that I have let myself down by not keeping up with this blog. I want to say that it is not my fault, but really… whose fault is it then?

Sometimes I blame the situation I am in, and my mental state or well being. Sometimes I blame the stress of life, or just things that came up in my way — stopping me from writing. Sometimes I just excuse myself from not writing merely because I didn’t have any muse. But of course, the biggest names in literary world don’t have muse everyday, do they? But they write.

Just like one of my friends posted in her facebook page once: “Writer writes”.

I mean, isn’t that obvious?

If you want to make writing as your profession, isn’t it just obvious that you have to do it professionally? And by being professional, it means you don’t just skip writing and go to ALDI, on the hours you actually allocate for writing, or playing Tsumtsum the whole day while hoping for the muse to come to find you. No…

Obviously, I have to start doing this properly.

As usual, Superbyq’s birthdays always renew my writing spirit, much more than new years. This year Superbyq is 7 years old. It is frustrating to admit that I haven’t gone as far as I wish I have. Of course I have developed since then, and that I have achieved few things in life. However, I feel that it is not enough…

So, yeah… Like every year before, I am hopeful about this year. Hopefully I could write more, write better, and of probably make something out of it.

Right… enough for now.

Thank you for keeping up with me.¬†I will see you again very very soon…

Prost!

Shell

Standard

The votes are counted, and the first round of the regional election has finished today. And I am gobsmacked with the result. Although, I am not surprised… not at all.

In the kind of political climate around the world today, anything could happen. Brexit. Trump. Anything, I said.

Maybe it is a bit late for me to post about Ahok now.¬†But I’d like to talk about it regardless…

A food for thought, mainly.

The fact that this election today has to go to the second round is an eye opener for the die hard supporters of Ahok. It is a reminder that it doesn’t matter how loud you are on the media, or social media — those opinions you are shouting, or typing, never got to those whose vote you are trying to get.

You are not reaching out to people whose opinions count.

I watch a discussion about satire on BBC yesterday. About how satire has become the “it” thing with the smart people. Satire is now highbrow, and exclusive. And that satire, which used to be the media’s weapon to reach out, now is missing the target audience. One of the panellists said something along the line: these hipsters are only talking to other hipsters… Just like you.

You are only talking to your own kind, to others who are just like you. Those who are agreeing with you. Because those who are not, are either stupid ignorant people, whose voices you dismissed. You are… honestly… just like me.

I have to admit that I am guilty for doing that too.

I once asked in a group on Facebook — this group is called ABAM, by the way. I asked them why they bothered to answer questions coming from people who were obviously only trying to troll, or just being a bigot. I told them that.. to be honest, I wouldn’t have either patience, or passion to do it. Maybe… maybe it is a good thing that I am not an educator.

These people, who are so passionate in educating people, reaching out and trying to open up minds, told me their reasons. It is not to change people’s mind, but to open it up so that they can think for themselves. It is not to make them to agree with us, but to make them see our point of view, so that maybe in the end we could agree to disagree — peacefully. It answers to inform, not answers to patronise.

I couldn’t do that.

Most of the time, when things heated up, I just left the conversation. Like that time when I talked to someone from Interpal.

But I might be in the wrong here.

Obviously what I’ve done was no different from these remain campaigners in the UK, Hillary’s supporters in the UK, and Teman Ahok volunteers in Jakarta. I am just talking to my own kind. I don’t reach out, and I don’t speak to enough people to make a difference.

I AM too living in a shell.

Back to the election now.

I think there are still time for Teman Ahok, if they want, to reach out to these swing voters. I just hope they realise this before it is too late.

Now then… I wish you the best of luck.

Prost!

An Update (Again)

Standard

Just came back from my annual visit to Indonesia. As usual, to celebrate the CNY.

This time, Chinese New Year feels different for me. In so many ways.

Not only that now I am no longer receiving angpao, and instead having to give kids ones, it was also… I don’t know. Ambivalent? I don’t know, I am not even sure how to put it. What I know is that in this trip home, so many things has changed. And, I realised that I have changed a lot too, since the last CNY.

img_2534

Mentally, mostly.

One little thing like… how I feel when I was surrounded by family, for example. It has changed too.

I used to like being left alone. I can blame it to my teenage angst, but now I can appreciate it more. I can appreciate being surrounded by cousins whom I haven’t met for at least five years, or nieces and nephews I haven’t never seen before. I can appreciate the attentions, as much as I could appreciate them leaving me alone in the past.

Or, the way I reacted to the problems in the family. I feel that I am no longer trying to fix stuff. It was, of course an effort not to treat my sisters and brother like children anymore. They are adults now, and the realisation has helped me to let them go, and be their own person. And they are their own persons, and I am proud of them.

It’s just…

Being the eldest in the family, there’s always this feeling of wanting to protect my sisters and brother. They probably don’t need my protection, not anymore. But it is always ingrained in me, the sisterly tough love to them. And, to be honest, this is probably the closest I could ever be to parenthood, so… IF they read this, I hope they understand if I was mummying them. (No, there’s a difference between mummying, and mummifying. Pay attention!)

Anyway. One thing doesn’t change though…

The FOOD.

As the closing of today’s post, I will present you: THE FOOD

img_2714 img_2725 img_2764 img_2787