Tag Archives: language

Gojag Gajeg

Standard

Bulan Mei datang sebentar lagi… dan setelah menimbang-nimbang selama beberapa jam, saya memutuskan untuk mengembalikan blog ini ke Bahasa Indonesia. Apa hubungannya antara bulan Mei yang akan datang sebentar lagi dan keputusan saya untuk mengembalikan blog ini ke Bahasa Indonesia?

Tidak ada.

Sebenarnya saya agak gojag-gajeg juga mau kembali menggunakan bahasa Indonesia di Superbyq. Sudah lima tahun lebih berbahasa Inggris di sini, rasanya agak wagu. Tapi, saya rasa memang ini sudah saatnya Superbyq kembali menjadi blog berbahasa Indonesia…

Dulu awalnya saya ingin menggunakan Superbyq untuk membantu saya mengasah kemampuan saya menulis dalam Bahasa Inggris. Saya ingin mengembangkan kosa kata saya, supaya thesis saya tidak terlihat seperti tulisan anak baru lulus SD. Dan, saya rasa tujuan tersebut sudah tercapai, dan mungkin sudah saatnya saya membuat tujuan baru untuk Superbyq.

Mungkin kali ini, untuk mengasah kemampuan saya berbahasa Indonesia lagi?

Bukan hal yang aneh, lho.

Saya rasa saya tidak sendirian dalam hal ini. Saya mendengar beberapa kasus di mana seseorang yang lama meninggalkan kampung halamannya, dan tidak menggunakan bahasa ibunya, mulai sedikit demi sedikit kehilangan kosa kata. Mungkin tidak sepenuhnya lupa, karena tidak demikian cara kerja otak.

Tapi ada saat di mana saya lupa bahwa sweet potato itu adalah ubi.

Nggak lucu.

Tahu bahwa sweet potato adalah ubi adalah satu hal, tapi beneran lupa saat mau menggunakannya dalam percakapan itu seperti sebuah peringatan bahwa saya mungkin suatu hari nanti akan merasa asing menggunakan bahasa ibu saya sendiri.

Setiap kali saya pulang kampung, di Solo saya jarang berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebanyakan bahasa Indonesia saya tercampur dengan bahasa Jawa, atau bahkan Sunda. Saya sudah jarang mampir di Jakarta. Ditambah lagi, saya tidak ada partner berbicara bahasa Indonesia di sini, di Norwich. Hampir tidak ada alasan bagi saya untuk menggunakan bahasa Indonesia sama sekali.

Mungkin saya paranoid.

Tapi saya takut suatu hari nanti saya akan kesulitan untuk menulis blog dalam bahasa Indonesia.

Sekarang saja, misalnya… entah sudah berapa kali saya menekan tombol backspace karena kalimat saya terlihat/terdengar/terbaca aneh. Sudah berapa kali saya mengedit entry hari ini, hanya untuk membuat postingan ini tidak terlalu wagu untuk dibaca.

Jadi… begitulah ceritanya kenapa saya mengembalikan blog ini ke bahasa Indonesia. Saya masih belum tahu apakah saya akan seterusnya menulis dengan gaya seperti ini — jujur saja rasanya kagok. Atau, apakah saya akan kembali ke jaman saya ngeblog di blogspot — yang kalau saya baca sekarang kok rasanya agak kurang cocok sama umur.

Sudah dulu hari ini… Sampai nanti ­čśÇ

Advertisements

Hallo! Ich hei├če Bybyq

Standard

Yes… yes… Ja!

I am learning Deutsch.

This is the thing… I have been thinking of learning a new language since ages ago. I even put it in my bucket list. So, since now I have plenty of time to use, why not start to learn? There is no better time to do this, is it?

You might ask “Why Deutsch?”

My answer is “Why not?”

I know that many Indonesian people I know (unless they work or study in Germany) would choose to learn Spanish or French first. I think those languages are awesome — Spanish is one of the most largely spoken language in the world, and French is… French. If I have got the opportunity and enough memory space in my brain, I might learn both, plus Japanese and maybe Chinese (for the practicality) too. However somehow — maybe because I do not like following the mainstream, I started to develop interest in Deutsch, especially after I know Haris.

Being multilingual is an advantage on its own. It is always fascinate my husband, who only speaks English that I could speak in at least two languages… fluently. If I threw in Javanese or┬áSundanese into the mix as well, then I would be regarded as trilingual. But for us, Indonesian, being trilingual is apparently not that special. Look at this…

http://www.wowshack.com/indonesia-ranks-as-the-top-trilingual-country-in-the-world/

Thing is… understanding Bahasa Indonesia, and Javanese is not really practical in real life, especially if you live in this part of the world. It is not as impressive as it sounds…

So, hopefully if I go to Deutschland this Sommer, I could at least have a simple conversation with the local people without relying too much on the dictionary. And, forgive me if I kept throwing in Vokabeln in Deutsch. I think that is the least I could do to improve as I don’t have conversing partner that could help me with the learning…

So,

Auf Wiedersehen. Bis sp├Ąter.