Tag Archives: politik

Pulang?

Standard

Status facebook teman-teman saya sering kali mendatangkan inspirasi buat menulis. Bukan cuma statusnya, tapi juga komentar-komentar orang lain — orang-orang yang tidak saya kenal, terhadap status tersebut.

Hari ini, misalnya.

Salah seorang teman saya yang bersekolah di luar negeri (luar Indonesia, maksudnya), mengunggah foto itinerary penerbangan dari tempatnya bersekolah, ke Indonesia. Pulang, sepertinya, setelah menyelesaikan pendidikan selama beberapa tahun di sana. Saya tidak tahu pasti apa yang dia bicarakan di statusnya, karena tidak ditulis dengan bahasa yang saya mengerti… tapi sebuah emot kecil yang mengikuti statusnya bicara banyak.

Komentar yang mengikutinya beragam, tentu saja. Grup teman-teman yang ditinggalkan, dan grup teman-teman yang menyambut pulang. Pulang…

Sulit rasanya menyebut kata “pulang”, kalau tempat yang dituju tidak terasa seperti rumah. Saya tahu, dan bukannya sok sok tahu, bahwa banyak pelajar Indonesia, terutama mereka yang kuning sipit seperti saya malas pulang ke Indonesia. Bukan karena kami tidak nasionalis, tapi karena kami tidak merasa di Indonesia kami masih dianaktirikan.

Kasus Ahok beberapa bulan lalu contoh jelasnya.

Karena kasus Ahok kemarin, makin banyak orang Indonesia, pelajar maupun bukan, makin malas kembali ke Indonesia. Percuma rasanya mengorbankan kehidupan yang aman, mapan, dan bebas diskriminasi di luar negeri, untuk membangun tanah air tumpah darah… kalau pada akhirnya dikriminalisasi seperti Ahok.

Memang benar, jadi minoritas itu tidak enak. Di mana-mana juga sama tidak enak jadi minoritas. Selalu saja ada grup orang-orang rasis bodoh, yang tidak paham konsep kebhinekaan. TAPI, setidaknya di negara lain, di sini misalnya, HUKUM selalu ada untuk melindungi kalau kami dibully oleh orang-orang semacam ini.

Di Indonesia? Hukum tidak pernah memihak yang benar. Kalau tidak memihak yang kuat dan berkuasa — kasus Antasari Azhar, Munir dll, ya memihak yang banyak dan populer — kasus anaknya Ahmad Dhani, FPI, Riziq Shihab dll.

Banyak orang Indonesia tidak mengerti, bahwa nasionalisme saja tidak cukup untuk hidup. Realistis saja, tidak ada manusia yang mau mati konyol kalau ada kesempatan buat membangun kehidupan yang lebih baik — membangun kehidupan, di tempat yang bisa disebut “rumah”.

Saya merasa turut berduka teman saya harus kembali ke Indonesia, dan bukan hanya untuk berkunjung seperti kalau pas saya pulang kampung. Saya kenal belasan anak Indonesia, kebanyakan perempuan, yang merasa terjebak di Indonesia. Kenapa perempuan?

Ha, saya punya teori. Perempuan. Minoritas. Indonesia yang semakin lama semakin gila agama. Jelas saja banyak perempuan minoritas pengen kabur dari sana. Saya hanya bisa berharap mereka bisa menemukan jalan keluar (yang legal) dari Indonesia.

 

Advertisements