Tag Archives: santai

Hi!!

Standard

I think it is time to talk about something lighter and happier than what I have been doing for the last few entries. Let’s do it differently this time, shall we? Yes we shall…

So… Happy place…

My blog is my happy place. Not all the time, but I find that writing makes me happy. So, I was so flattered when my sister told me that one of her best friends — let’s call her B, is — after all these years, still following my blog. I don’t know how she did it, but I am so happy that at least I know I have ONE loyal supporter out there. It does make writing worthwhile, you know? Knowing that someone out there actually read what you are writing.

It makes me feel a little bit cheesed off at the same time, knowing that my sister couldn’t be bothered to read it lol. But well, that’s okay. More room for me to talk about them without having to think of what they are going to think about me. Yay!

Anyway, if B, my sister’s best friend is reading this, I would like to use this opportunity to say hi to you. I haven’t seen you in years. How are you now? I hope you are well… My sister said that you are now working in an online industry. Wow I am soooo jealous. I thought you are going to start your own little online craft shop? When you set it up, please let me know so that I could write about it more 😀

And yes, you are right to be upset with her for not keeping in contact with you. Tell her off some more! She deserves it. No. Seriously.

Anyway, thank you for keeping up with this blog. When I visit Jakarta, let’s have dinner together, shall we? Of course I can totally understand if you don’t want to. I don’t want to come across as stalker or anything. Haha… well.. I shall finish writing now, but I wish you a nice day. And take care 🙂

Advertisements

Home

Standard

I know… I know it is a late post, but as I always say… better late than never. You could disagree with that, but let’s agree to disagree. Agree?

Yes. I am home. In this case I am now back in Norwich after a whole month holiday in Indonesia. You might ask me, what I have achieved during my whole month of doing nothing in my parents’ house. Of course you might. And I might answer: WISDOM.

I think “wisdom” sounds much better than “nothing… really”.

Alright… I did not really achieve nothing. Okay? I got something done. I had my hair cut, and dyed it purple (yay me!!), I met my family and some of my friends, and caught up with the latest news, I also had a coil contraception placed inside my tummy (stories about it — coming soon). I also did a little research and looked around the city and contemplating the “what if”.

The very what if we rarely mentioned before.

“What if Mr.Fix-It and I move to Indonesia?”

Of course it is silly considering today’s social and political situation in Indonesia. I really can’t see me living in a country where LGBT is still considered as illegal. I have been living here where people could be themselves without any kind of social punishment — for being themselves. I can’t see how can I live among people who condemn LGBT — even among them are some of my closest relatives (stories about it — coming soon).

But most of all, a month in Indonesia teaches me what it means to be home, or even… what home means for me.

People said that home is where the heart is. I believe so too. But what if you don’t know where your heart should be? My family is still in Indonesia. My parents, my sisters, my brother… my dogs. Life is much easier there as I could get stuff done without lifting my middle finger.  But… at the same time, my one and only beloved husband is here in Norwich. I am the queen of my own kitchen. I am the lady of my own house. My knitting projects are here… My heart is utterly confused.

How do I decide where home is?

Well… apparently it was quite simple. On the day I arrived in Norwich, after 10 minutes taxi ride, I found this:

img_0058

It is stuck in my front door by my husband. When I saw it, I knew I was… HOME.

Excuse Me. Do I Owe You Something?

Standard

Dalam sebuah film karya Joko Anwar yang berjudul “Pintu Terlarang”, saya mendapati sebuah statement yang lumayan fenomenal (bagi saya). Saya tidak tahu apakah di novel karya Sekar Ayu Asmara, yang juga berjudul sama, ada kalimat ini atau tidak. Saya rasa yang sudah menonton film “Pintu Terlarang” pasti tahu:

“Tidak ada seorang anak pun yang ingin dilahirkan ke dunia ini”

Sebenarnya, beberapa tahun sebelum saya menonton film ini, saya pernah mendengar pernyataan yang isinya kurang lebih sama dari seorang teman. Teman yang saya kenal di sebuah forum ini (sekali lagi, saya tidak main ke forum TERBESAR se Indonesia, melainkan bagi saya, secara subjektif, forum yang saya kunjungi ini adalah forum terbaik se-Indonesia) mengatakan bahwa:

“Merawat anak, dan membesarkannya sampai dewasa adalah KEWAJIBAN orang tua dan bukan hutang anak kepada orang tuanya”

Atau kira-kira semacam itu.

Read the rest of this entry

According To Byq

Standard

Saya dan si Monyed punya pendapat masing-masing tentang bagaimana seharusnya liburan yang menyenangkan itu. Jujur saja, pandangan kami tentang bagaimana menghabiskan liburan itu sungguh-sunggung nggak mirip satu dengan yang lain. Pastinya tidak ada yang menyangka kalau kami bisa menghabiskan liburan tanpa berantem.

Dan memang tidak. Pasti kalau mau liburan ada berantemnya. Tapi entah kenapa, setiap kali liburan bersama si Monyed, selalu berujung menyenangkan.

Cukup aneh juga menurut saya, mengingat selera liburan saya dan si Monyed yang begitu bertolak belakang. Kalau si Monyed lebih suka jalan-jalan yang tergolong high class, dan mewah ke tempat-tempat eksklusif dan lain dari pada yang lain, saya lebih suka perjalanan budaya mengunjungi tempat-tempat dengan nilai sejarah dan memiliki cerita tersendiri. Kalau si Monyed suka berbelanja oleh-oleh, buat saya oleh-oleh terbaik adalah cerita yang tidak bisa ditukarkan oleh benda apa pun.

Read the rest of this entry

Panggil Saya Bitchbyq…

Standard

**WARNING: POSTINGAN INI PANJANG BANGET, HARAP SEDIAKAN POPCORN DAN AIR MINUM UNTUK JAGA-JAGA**

Sepertinya sudah berabad-abad sejak terakhir saya ngetik blog dengan menggunakan enam jari (saya memang nggak bisa ngetik dengan 10 jari, sedangkan gaya mengetik 11 jari sudah basi). Akhirnya saya bisa mengistirahatkan jempol saya barang sejenak, karena saya sudah berhasil mendapatkan koneksi internet saya kembali.

Apakah saya ganti provider? Tentu tidak! Bwek… saya masih mau yang murah ini, apalagi saya sudah berhasil meluapkan emosi saya di counter layanan pelanggan di salah satu mall di dekat tempat di mana saya tinggal. Jadi tidak ada masalah. Lalu kenapa saya harus disebut bitchbyq? *maniacal laughter misterius*

Yap… saya bener-bener berlaku menyebalkan tadi. Bukan tanpa alasan tentunya, tapi karena saya baru menyadari bahwa saya ini salah sepenuhnya. Mungkin CS yang terima telepon pengaduan itu memang ngomong seperti kaset rusak, tapi mereka nggak ada apa-apanya dibanding sama customer service yang saya temui hari ini. Buat saya, CS di telepon kemarin terdengar seperti bawang putih, dan yang tadi saya temui adalah si bawang merah. Dan saya ga doyan bawang.

Read the rest of this entry

Membahasakan Saya

Standard

Ternyata tidak mudah untuk tetap mengubah kebiasaan saya menggunakan kata ganti pertama “gwe” dengan “saya”. Padahal itu baru permulaan saya memperbaiki tata penulisan saya dalam blog ini. Belum apa-apa saya sudah mendapat teguran ibu editor di tulisan sebelumnya, karena saya kelepasan menggunakan satu kata “gwe” di sana.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menggunakan “gwe”, karena di blog lain saya juga masih menggunakan itu. Tapi memulai sebuah kebiasaan baru memang tidak semudah yang saya bayangkan. Hal ini berlaku tidak hanya dalam menulis saja, namun juga dalam hal-hal lain yang saya lakukan sehari-hari.

Read the rest of this entry

Blame

Standard

Beberapa waktu yang lalu, gwe bertanya sama salah seorang teman, yang pada saat itu masih berjuang bersama gwe menyelesaikan skripsi. Atau paling tidak, pada saat itu gwe berpikir dia juga sedang berjuang, sama seperti gwe. Teman ini… gwe ga perlu sebutkan namanya, gwe bahkan tidak perlu membuat nama pengganti seperti yang biasa gwe lakukan di MWWYT, karena nanti kalau yang bersangkutan nyadar, maka dikira gwe sedang berusaha untuk ‘menyerang’.

Pertanyaan gwe sederhana, berhubung dia sudah menjalankan skripsinya selama lebih dari setahun, gwe bertanya apa yang membuat dia stuck. Tentu saja, gwe bukan dosen yang kemudian bisa memberikan dia solusi tentang bagaimana dia akhirnya nanti bisa mengerjakan skripsinya, karena gwe tahu bahwa pada dasarnya dia cukup pinter buat ngerjain itu skripsi tanpa bantuan dari siapapun.

Read the rest of this entry

Janji Kepada Stu

Standard

Kemarin gwe berjanji sama Stu untuk bersihin kandangnya hari ini. Bukan apa-apa, kalo lagi mens kaya begini ini, rasanya males banget buat ngapa-ngapain. Perut sakit, pinggang pegel, rasanya bersihin kandang Stu menjadi beban yang begitu berat. Akan tetapi, janji adalah hutang bukan? Rasanya nggak lucu kalo gwe ngemplang utang sama seekor hamster, maka jadilah gwe membersihkan kandang Stu hari ini.

Emang sih pekerjaan membersihkan kandang Stu menjadi agak sedikit membebani kalau dilakukan dengan terpaksa. Bagaimana tidak terpaksa? Prediksi gwe, sakit perut ini sudah sembuh, dan pinggang yang udah selama dua hari ini selalu gwe tempelin koyo sudah sembuh, tapi ternyata dugaan gwe meleset. Gwe membersihkan kandang Stu dengan siksaan fisik yang tiada tara.

Read the rest of this entry

Seandainya Gwe Datang Dari Masa Depan

Standard

Entah kesambet apa gwe tiba-tiba pengen main-main ke forum yang dulu sering gwe tongkrongin. Dan di sanalah, gwe mendapatkan sebuah berita yang aneh bin ajaib… serius deh. Gwe ga habis pikir kenapa ada orang yang niat banget membuat berita macam begini.

Intinya dari berita itu, ada orang yang mengaku bahwa dia berasal dari masa depan, yaitu tahun 2012. Orang tersebut bilang bahwa dia datang ke 2010 dengan menggunakan mesin waktu. Selidik punya selidik (bahasa gwe memang jadul. I was born in 80’s, raised in 90’s and enter puberty in oo’s so.. yeah…) ternyata sebelumnya pada tahun 2001 pernah ada yang melakukan hal serupa di Amrik sana.

Lalu gwe pun berpikir, seandainya gwe datang dari masa depan, apa yang akan gwe lakukan.

Read the rest of this entry

Bybyq Jam Dua Malam

Standard

Santai sebentar setelah beberapa postingan panas dan emosional beberapa entry terakhir ini. Fyuh! Ternyata menulis hal-hal yang analitis dan kritis itu memakan energi lebih banyak daripada nge-gym 3 jam yah?

Ngomong-ngomong soal nulis. Nyadar nggak sih kalo kebanyakan tulisan gwe dibuat sekitar jam 2 dini hari? Bukannya disengaja loh, gwe juga baru nyadar beberapa waktu yang lalu saat ngecek tampilan blog gwe sendiri.

Read the rest of this entry