Tag Archives: travel

An Update (Again)

Standard

Just came back from my annual visit to Indonesia. As usual, to celebrate the CNY.

This time, Chinese New Year feels different for me. In so many ways.

Not only that now I am no longer receiving angpao, and instead having to give kids ones, it was also… I don’t know. Ambivalent? I don’t know, I am not even sure how to put it. What I know is that in this trip home, so many things has changed. And, I realised that I have changed a lot too, since the last CNY.

img_2534

Mentally, mostly.

One little thing like… how I feel when I was surrounded by family, for example. It has changed too.

I used to like being left alone. I can blame it to my teenage angst, but now I can appreciate it more. I can appreciate being surrounded by cousins whom I haven’t met for at least five years, or nieces and nephews I haven’t never seen before. I can appreciate the attentions, as much as I could appreciate them leaving me alone in the past.

Or, the way I reacted to the problems in the family. I feel that I am no longer trying to fix stuff. It was, of course an effort not to treat my sisters and brother like children anymore. They are adults now, and the realisation has helped me to let them go, and be their own person. And they are their own persons, and I am proud of them.

It’s just…

Being the eldest in the family, there’s always this feeling of wanting to protect my sisters and brother. They probably don’t need my protection, not anymore. But it is always ingrained in me, the sisterly tough love to them. And, to be honest, this is probably the closest I could ever be to parenthood, so… IF they read this, I hope they understand if I was mummying them. (No, there’s a difference between mummying, and mummifying. Pay attention!)

Anyway. One thing doesn’t change though…

The FOOD.

As the closing of today’s post, I will present you: THE FOOD

img_2714 img_2725 img_2764 img_2787

When Mr. Fix-It Is Having Days Off

Standard

Belated Happy Easter, people.

Yeah.

It is said that Easter is supposed to be a bigger celebration than Christmas if you are a Catholic. Roman Catholic. I’ve been told that by my teachers at school. Mind you, I was schooled in a Catholic schools, so I just took in what they told me.

And, why? I heard you ask. Why Easter is supposed to be bigger celebration that Christmas. Well… Apparently being undead is a bigger magic trick miracle than being born.

Anyway… I am not in the mood for religious argument. Talking about Easter is supposed to be coincide with Jewish Passover, or that what we now celebrate as Easter is actually he pagan spring solstice celebration. But oh well.. it doesn’t matter. Does it? People will believe what they want, and I could just ignore it and enjoy the holiday it gives me and Mr. Fix-It.

We went to London.

My plan was brilliant, of course, by taking my beloved husband to V&A museum. It wasn’t heavily packed with people, considering it was Sunday, and school holiday. But sometime after lunch Mr. Fix -It decided that it would be nice if we abandon V&A and go to Science Museum.

And then we realised. Going to museums that catered for kiddies in school holidays is not a good idea.

Granted that the queue in front of Science Museum was not as long as the one in front of Natural History Museum. But you couldn’t judge a museum from the queue in front of it, really. Because when we went in to Science Museum, it was packed with people. I hated it.

I mean… I never hated going to museum, but I never went to a museum when it was incredibly… incredibly packed with children like that. Oh the agony. Wished we never left V&A.

ac497480-9e9a-46cd-8067-6c8c62579ecc

Me trying the gauntlet. Should have bought hand gel to sanitise my hand after putting it on.

Oh well.. We did have fun though. We went home completely exhausted, but happy that we did what we did. I wish he could have a longer holiday ūüė¶

 

Istanbul: Maiden’s Tower dan Bosphorus Cruise

Standard

Dua hari terakhir di Istanbul, saya rasa barulah kami betul-betul melihat indahnya tempat ini. Baru ngeh kenapa kota ini diperebutkan dua kekaisaran besar, untuk dijadikan sebagai pusat kekuasaan mereka. Sungguh tidak heran deh…

Dengan lebih dari 90% penduduknya beragama Islam, tidak heran kita bisa melihat masjid di sepanjang jalan. Erkan, tour guide kami, bahkan mengingatkan untuk tidak menggunakan masjid sebagai ancer-ancer, karena di setiap ujung jalan kami pasti akan bertemu masjid. Tentu saja kami sudah siap-siap untuk mendengar suara adzan lima kali sehari, mengingat begitu banyaknya masjid di Istanbul, tapi ternyata tidak. Tidak ada panggilan, aktivitas di pasar, restoran, tempat wisata tidak ada yang berhenti menjelang waktu beribadah.

Salah satu Masjid di sepanjang jalan dari Anatolia menuju Istanbul

Salah satu Masjid di sepanjang jalan dari Anatolia menuju Istanbul

Saat ditanya, Erkan hanya tertawa. “Ya benar,” katanya. “Memang 90% atau bahkan 95% penduduk Turki ini beragama Islam, tapi di kota besar macam Istanbul, cuma 3% bahkan kurang yang pergi ke masjid atau solat lima waktu.”

Erkan melanjutkan, “Orang Turki, karena sejarahnya merupakan masyarakat yang toleran. Meskipun saya tahu tetangga saya muslim, tapi kalau dia ingin minum alkohol, saya tidak akan melarang. Mau puasa silakan, mau tidak puasa suka-suka. Mau pergi ke masjid silakan, mau tidak pergi tidak ada yang menghakimi. Itu sudah normal di Turki.”

“Hanya saja, satu hal yang kami tidak lakukan…” Erkan menunggu, membangun suspense. “Makan babi!” katanya.

“Aneh memang orang Turki ini. Menurut hukum agama kami, tidak sholat tidak puasa dan minum alkohol dosanya lebih besar daripada makan babi. Tapi kami lebih sensitif soal makan babi daripada dosa yang lain. Aneh memang kami ini…” katanya mengakhiri pembahasan, disambut tawa kami semua.

Begitu memasuki kota Istanbul, selat Bhosporus biru membentang di sebelah kiri kami. Terlihatlah juga sebuah pulau kecil dengan tower di atasnya. Maiden’s Tower. Bangunan bersejarah ini milik pemerintah, tetapi upkeepnya diberikan kepada swasta dan interiornya digunakan sebagai restoran. Saya rasa ini ide yang sangat bagus untuk mempertahankan feel kota tua yang dimiliki Istanbul.

Maidens Tower, menara kecil di Selat Bhosporus

Maidens Tower, menara kecil di Selat Bhosporus

Maiden’s Tower memiliki banyak cerita. Sama seperti Indonesia, Turki memiliki banyak mitos dan legenda lokal untuk menjelaskan suatu daerah. Maiden’s Tower sendiri memiliki setidaknya lima urban legend. Tetapi salah satu yang paling terkenal adalah kisah mengenai putri raja dan ular.

Alkisah, suatu malam dalam tidurnya, Sultan mendapat mimpi. Dalam mimpi itu seorang ahli nujum berkata padanya bahwa putri kesayangannya akan meninggal digigit ular. Sang Sultan sangat mempercayai mimpi tersebut, dan ingin menyelamatkan putrinya dari kematian. Dipikirkannya seribu cara, sampai diputuskannya bahwa Sang Putri akan ditempatkannya di sebuah menara di pulau kecil, jauh dari ular.

Setiap hari, pelayan akan datang membawakan pakaian, dan makanan untuk Sang Putri. Dayang-dayang memenuhi apapun kebutuhan Sang Putri, dan apapun yang diinginkannya. Suatu hari, datanglah kiriman makanan berupa buah-buahan segar dari mainland. Makanan kesukaan Sang Putri. Tak disangka, seekor ular berhasil menyelinap di keranjang buah itu dan menggigit tangan Sang Putri pada saat dia hendak mengambil buah dari keranjang. Sang Putri pun meninggal digigit ular.

Not a cheerful story…

Tapi Maiden’s Tower ini memang bagus… Butuh ekstra perjuangan buat naik ke atas tower, yang dari jauh tidak kelihatan terlalu tinggi itu. Tapi sampai di sana kami bisa melihat indahnya selat Bosphorus.

Btw, Selat Bosphorus iki opo tho? 

Selat Bosphorus dari puncak Maidens Tower

Selat Bosphorus dari puncak Maidens Tower

Turki ini adalah negara yang letaknya tepat di perbatasan antara Asia dan Eropa. Pembatasnya ya Selat Bosphorus ini. Di sebelah Timur Selat Bosphorus adalah Turki di Asia, dan di sebelah Barat adalah Turki di Eropa. Inilah yang menyebabkan Turki begitu kaya dengan budaya, meskipun tidak jelas apakah ini budaya Asia, atau Eropa.

Setelah makan siang di restoran di tower, kami naik ke kapal. Bosphorus Cruise adalah salah satu kegiatan wisata yang sangat populer di Turki. Jadi kami akan mengarungi Selat Bosphorus sambil melihat Turki dari laut. Percaya atau tidak, dengan sedikit pengamatan kita bisa melihat bedanya bangunan dengan pengaruh Eropa dan bangunan dengan pengaruh Asia.

IMG_6446

Pemandangan dari dalam kapal, Kota Istanbul yang padat dan sibuk

Dari Selat Bosphorus, kami juga bisa melihat tempat yang akan kami kunjungi keesokan harinya. Topkapi Palace.

 

Istanbul: Hippodrome, Blue Mosque, dan Hagia Sophia

Standard

Jauh sebelum Kota Istanbul dikenal dengan nama demikian, kota ini tidak lebih dari sekedar kota nelayan kecil dalam wilayah kekuasan kekaisaran Yunani dengan lokasi yang sangat strategis bernama Byzantium atau Byzantion. Saat berjayanya kekaisaran Romawi, Byzantium — karena lokasinya yang strategis itu, dijadikan sebagai pusat kekuasaan Romawi dan diberi nama Konstantinopel (Constantinople), atau Konstantinopolis (Constantinopolis), dari nama Kaisar Konstantin.

Berkembangnya kekaisaran Romawi ini sejalan dengan berkembangnya ajaran agama nasrani. Penduduk Byzantium yang sebelumnya adalah penganut agama Pagan Yunani, mulai beralih memeluk agama Nasrani mengikuti pemimpin mereka. Silih berganti pemimpin Konstantinopel ingin menjadikan kota ini sebagai kota suci, menggantikan posisi Roma sebagai pusat agama Kristen. Namun keruntuhan kekaisaran Romawi, diikuti dengan berkembangnya kekaisaran Ottoman, Konstatinopel pun jatuh, dan kemudian diberi nama Istanbul, dan Islam pun mulai dijadikan sebagai agama utama di kota tersebut.

Sekilas begitulah garis besar sejarah kota Istanbul. Apabila tertarik untuk tahu lebih banyak bisa google, atau mungkin mau menonton BBC Four Documentaries, Byzantium: A Tale of Three Cities. Ada tiga episode, dan saya rasa penjelasan maupun rekonstruksi kejadiannya sangat menarik untuk diikuti.

Nah… Perkembangan Istanbul dari jaman Byzantium sampai Ottoman empire itulah yang menyebabkan Istanbul sungguh kaya dengan budaya. Perkembangan agama di kota ini membuat Istanbul tidak hanya dianggap sebagai kota suci umat Islam, namun juga umat Kristen, Katolik dan juga penganut Pagan Yunani.

Hagia Sophia, misalnya. Hagia Sophia atau Aya Sophia artinya adalah Holy Wisdom atau kebijaksanaan suci.

Tidak jelas apakah saya harus menyebut Hagia Sophia sebagai gereja, kuil pagan atau masjid. Di dalam gedung yang luar biasa megah ini tidak hanya bisa kita lihat lukisan ataupun mosaik bergambar Bunda Maria dan Yesus, namun juga benda-benda pemujaan agama pagan dan juga aksara Arab yang menyimbolkan Islam.

IMG_6029

Pemandangan dari dalam Hagia Sophia yang berhasil saya foto sebelum batere ponsel saya benar-benar mati

Bangunan ini mencerminkan sikap orang Turki pada umumnya. Mereka menyambut baik semua agama, dan tidak fanatik terhadap satu agama tertentu. Orang Turki memiliki penghargaan tinggi terhadap tradisi dan juga kekayaan budaya mereka, dan mereka sangat mengerti bahwa menjaga kekayaan budaya ini jauh lebih penting daripada mempertahankan fanatisme sempit.

Hasilnya? Turki adalah negara Islam yang tidak terseret-seret perang di Timur Tengah. Erkan menjelaskan pada kami bahwa karena sikap bangsa Turki yang terbuka dan bhinneka, mereka dapat hidup tenang sebagai bangsa merdeka tanpa harus terjebak dalam perang seperti negara tetangga mereka, Syria.

Selain Hagia Sophia, di area yang sama kita juga bisa melihat Hippodrome. Hippodrome ini didirikan sebagai monumen kebesaran Konstantinopel sebagai pusat kekaisaran. Hippodrome adalah alun-alun, di mana di sana terpajang berbagai obelisks, dan juga patung yang melambangkan kebesaran kekaisaran Romawi pada saat itu.

Pada saat kedatangan pasukan Ottoman, Hippodrome tidak ikut jatuh bersama jatuhnya Konstantinopel. Sebaliknya Hippodrome diabadikan dan diganti nama menjadi Alun-alun Sultan Ahmed, atau Sultan Ahmed Square, atau dalam Bahasa Turki Sultanahmed Meydani. Dan, di area yang sama dibangun pula Masjid Sultan Ahmed, yang dikenal pula sebagai The Blue Mosque.

Kenapa masjid ini diberi nama masjid biru? Kalau kalian masuk ke dalamnya, kalian akan mengerti kenapa.

gambar diambil dari Wikipedia, karena ponsel saya sudah tidak bernyawa pada saat kami sampai di sini…

Interior masjid ini dihiasi dengan keramik iznik yang terkenal dengan motif bunga tulip berwarna biru. Jadi, saat kita masuk ke dalam masjid ini, kita akan dikelilingi warna biru yang menenangkan.

Inilah iznik pottery Turki yang terkenal itu (gambar juga saya ambil dari Wikipedia). Kerajinan tangan ini hanya dikuasai beberapa orang saja, salah satunya master potter yang akan kami temui nanti…

Bagi saya, tiga bangunan ini melambangkan perjalanan Kota Istanbul yang sesungguhnya. Tidak heran bahwa tiga objek wisata ini begitu populer, tidak hanya bagi turis tapi juga bagi para sejarawan. Tapi Istanbul tidak hanya tentang mereka, masih banyak cerita tentang Istanbul, seperti Istana Topkapi, Maiden Tower, dan indahnya Selat Bosphorus.

Istanbul, Satu Kota Seribu Cerita

Standard

Mungkin agak terlambat kalau saya menceritakan tentang liburan saya saat Lebaran kemarin, tapi tetap saja saya ingin berbagi, siapa tahu saja di antara kalian ada yang ingin jalan-jalan ke Turki di waktu yang akan datang. Sebelumnya, saya ingin memberi dua tips mengenai kapan waktu yang tepat untuk berlibur ke Turki.

1. Mungkin memang waktu yang paling pas buat kita berlibur, terutama yang di Indonesia adalah pada saat lebaran. Tapi pergi ke Turki pada saat lebaran sungguh bukan waktu yang tepat. Bayangkan macetnya arus mudik? Ya, demikian juga keadaan lalu lintas di Turki. Kenapa? Karena mayoritas penduduk Turki beragama Islam, dan mereka juga merayakan Ramadan, beberapa tempat wisata kemungkinan ditutup atau tutup setengah hari karena perayaan ini juga, jadi sayang sekali kalau harus menghabiskan waktu di jalan karena terjebak macet seperti yang saya alami kemarin di Turki.

2. Karena lokasinya, beberapa wilayah Turki memiliki iklim mediterania. Turki mengalami musim dingin-penghujan yang bisa membuat orang menggigil kedinginan, juga musim panas yang kering dan gerah. Pergi ke Turki pada bulan-bulan musim panas seperti yang saya lakukan kemarin sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi kita yang tinggal di negara tropis. Tentu saja berbeda bagi wisatawan Eropa yang senangnya bukan main kalau melihat cahaya matahari, kita akan sibuk mencari perlindungan pohon atau payung dan berlapis-lapis krim untuk melindungi kita dari sengatan matahari. Takut gosong bok!! Jadi, sebaiknya pergi ke Turki pada bulan-bulan Maret di mana kalian bisa menikmati tulip bermekaran di istana Topkapi, atau akhir September di saat cuaca tidak terlalu panas.

Istanbul ini adalah kota terbesar di Turki, tapi jangan salah, Istanbul bukanlah ibukota Turki. Ibukota Turki berada di Ankara, letaknya di daerah Anatolia. Mengapa kota terbesar di Turki tidak sekalian saja dijadikan ibukota, seperti Jakarta, misalnya?

Nah, bapak pendiri Republik Turki, sekaligus presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk memiliki visi yang besar terhadap negara ini. Dia tahu benar bahwa sebagai ibukota, sebuah wilayah harus memiliki fasilitas infrastruktur yang baik. Istanbul pada saat itu sudah terlalu penuh untuk dibangun ulang, maka dipilihlah Ankara sebagai ibu kota. Dimana letak Ankara ini tidak hanya strategis, tetapi masih memberi ruang untuk membangun gedung-gedung bisnis dan administrasi negara tanpa merombak gedung-gedung tua bersejarah di Istanbul.

Tahu dari mana saya semua itu?

Tour guide kami selama di Turki, Erkan, mungkin adalah tour guide terbaik yang pernah saya temui. Tidak hanya dengan sabar menjelaskan mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi, namun juga sangat informatif mengenai hal-hal di luar itu. Erkan tahu banyak hal dari sejarah agama, politik maupun sejarah arkeologi, yang membuat seminggu bersama tur ini membuat saya merasa sudah menjadi ahlinya Turki.

Karena sudah menjadi tour guide selama lebih dari 10 tahun, dan sudah memimpin tur untuk grup orang Indonesia selama itu juga, kemampuan bahasa Indonesia Erkan sangat baik. Ini sangat membantu bagi anggota keluarga kami yang tidak bisa berbahasa Inggris seperti orang tua saya. Dan, mengenal betul sifat orang Indonesia, Erkan memutuskan untuk membagi tur Istanbul menjadi dua hari. Hari pertama sesaat setelah kami mendarat, dan hari terakhir sebelum kami pulang.

Ide yang bagus. Karena ternyata kami harus terjebak 9 jam kemacetan saat hendak keluar dari Istanbul, menuju ke Canakkale. Ya, benar… arus mudik lebaran. Istanbul adalah kota termacet di Turki, kami tahu itu di hari pertama liburan kami.

Harus saya akui hari pertama saya di Turki, di Istanbul benar-benar melelahkan.

Meskipun tur dimulai di Istanbul, tapi perjalanan saya dimulai duapuluh empat jam sebelumnya di Norwich. Karena saya tidak lagi berdomisili di Indonesia, saya bergabung dengan anggota tur yang lain di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul. Hanya saja, karena perbedaan waktu penerbangan, saya harus menunggu di dalam bandara selama kurang lebih tujuh jam. Tanpa internet.

Mengantuk dan kelaparan, saya tidak bisa melakukan apa-apa selain membeli air minum dan cemilan dari vending machine. Karena tidak ada internet sama sekali, saya tidak bisa mengontak siapa pun. ¬†Lagipula batere saya sudah mau mati karena menunggu sekian lama. Alhasil saya harus menunggu di tempat di mana anggota keluarga saya akan mengambil bagasi nanti. Ah…

Ditambah dengan teriknya matahari musim panas di Turki, saya benar-benar tidak bisa seratus persen menikmati hari pertama di Istanbul. Padahal saya penasaran betul dengan tiga tempat ini, Hippodrome, Blue Mosque, dan Hagia Sopia. Tiga tempat bersejarah ini punya beribu cerita tentang Istanbul.